Selasa, 11 Maret 2014

Ternyata Adolf Hitler Mati di Indonesia dan Beragama Islam

Diktator Jerman, Adolf Hitler diyakini tewas bunuh diri di sebuah bunker di Berlin pada 30 April 1945, tapi itu tidak sepenuhnya benar. Sebab usut punya usut, Der Fuhrer–julukan Hitler, dikabarkan sempat melarikan diri ke Indonesia.
Seperti dikutip dari siaga.co, Hitler dalam pelariannya ke Indonesia diduga menggunakan nama samaran. Dia dilindungi oleh orang-orang pribumi, bahkan setelah mati jasadnya dimakamkan di TPU Ngagel Surabaya, Jawa Timur.

Amerika Serikat pada Senin 28 September 2009, mengklaim bahwa tengkorak milik Adolf Hitler yang disimpan Rusia, ternyata bukan milik pemimpin Nazi tersebut. Itu adalah tengkorak perempuan berusia di bawah 40 tahun. Jadi bukan Hitler yang dinyatakan meninggal di usia 56 tahun. Namun penemuan ini menguatkan dugaan teori konspirasi bahwa Hitler tidak mati pada 1945.

Hitler diduga melarikan diri dan mati di usia tua. Sejumlah teori beredar soal dimana kematian Hitler. Ada yang mengatakan Hitler meninggal di Argentina, Brazil, Amerika Selatan, bahkan Indonesia.

Cerita meninggalnya Hitler di Indonesia berasal dari dr. Sosrohusodo. Dia dokter lulusan Universitas Indonesia. Sosro mengaku pernah bercakap-cakap langsung dengan sang ditator Jerman tersebut.

Inilah cerita Sosro, pada waktu itu, Hitler meninggal di Indonesia.

dr Poch
Pengakuan Sosro ini pertama kali muncul pada tahun 1983. Sosro menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman di pulau Sumbawa Besar pada tahun 1960. Dokter tua itu kebetulan memimpin sebuah rumah sakit besar di pulau tersebut. Namanya rumah sakit Hope. Sedang dokter tua itu bernama Poch.

Dr Poch inilah yang diduga Sosro tak lain Hitler. Beberapa bukti pun diajukan Sosro, antara lain dokter Jerman (Poch) tersebut cara berjalannya sudah tidak normal lagi. Kaki kirinya diseret. Tangan kirinya selalu gemetar. Kumisnya dipotong persis seperti gaya aktor Charlie Chaplin. Kepalanya plontos. Kondisi itu memang menjadi ciri khas Hitler pada masa tuanya.

“Sejumlah orang Jerman tahu Hitler menyeret kakinya saat berjalan, penglihatannya makin kabur, rambutnya tak lagi tumbuh. Kala perang makin berkecamuk dan Jerman terus dipukul kalah, Hitler menderita kelainan syaraf.”

Foto Hitler yang diabadikan oleh Sosrohusodo
Keyakinan Sosro ini semakin kuat, meski banyak polemik yang terjadi. Hingga tahun 1990, tepatnya di akhir kematiannya, Sosro keyakinan Sosro terhadap sosok Poch adalah Hitler, tetap tidak berubah. Bahkan ia merasa semakin kuat setelah mendapatkan bukti lain yang mendukung ‘penemuannya’.

“Semakin saya ditentang, akan semakin keras saya bekerja untuk menemukan bukti-bukti lain,” kata lelaki yang lahir pada tahun 1929 di Gundih, Jawa Tengah, di Bandung.

Andai saja benar dr Poch dan istrinya adalah Hitler yang tengah melakukan pelarian bersama Eva Braun, maka ketika Sosro berbincang dengannya, pemimpin Nazi itu sudah berusia 71 tahun. Sebab sejarah mencatat, Adolf Hitler dilahirkan tanggal 20 April 1889.

“Dokter Poch itu amat misterius. Ia tidak memiliki ijazah kedokteran, dia juga tidak menguasai masalah medis,” kata Sosro.

Tumbuhnya keyakinan Sosro mengenai Hitler di pulau Sumbawa Besar, tidaklah suatu kesengajaan. Ketika bertugas di pulau tersebut dan bertemu dr Poch, yang ada pada benak Sosro hanya kecurigaan saja.

Sosro mengaku masih ingat beberapa percakapannya dengan Poch. Tiap kali berbincang, Poch selalu memuji-muji Hitler. Dia juga mengatakan tak ada pembunuhan di Auschwitz, kamp konsentrasi yang diyakini sebagai lokasi pembantaian orang-orang Yahudi.

“Saat saya bertanya soal kematian Hitler, dia mengatakan tak tahu. Sebab, saat itu situasi di Berlin dalam keadaan chaos. Semua orang berusaha menyelamatkan diri masing-masing,” kata Sosrohusodo.

Di sela-sela obrolan, dr. Poch mengeluh tentang tangannya yang gemetar. Kemudian Sosro memeriksa saraf ulnarisnya. Ternyata tidak ada kelainan, demikian pula tenggorokannya.

Sosro ketika itu berkesimpulan bahwa kemungkinan “Hitler” hanya menderita parkisonisme saja, mengingat usianya yang sudah lanjut.

Yang membuat Sosro terkejut, dugaannya bahwa sang dokter mungkin terkena trauma psikis ternyata diiyakan oleh Poch. Ketika disusul dengan pertanyaan sejak kapan penyakit itu bersarang, Poch malah bertanya kepada istrinya dalam bahasa Jerman. Sang istri lalu menjawab, “Ini terjadi ketika Jerman kalah di pertempuran dekat Moskow. Saat itu Goebbels mengatakan padamu bahwa kau memukuli meja berkali-kali.”

Goebbels yang disebut istri Poch, diduga adalah Joseph Goebbe. Dia adalah menteri propaganda Jerman yang dikenal loyal dengan Hilter. Kata Sosro, istri Poch (Eva Braun), dia kerap kali memanggil nama suaminya dengan sebutan ‘Dolf’. Atau kependekan Adolf Hitler.

Lama setelah berpisah dari Poch, atau setelah Sosro kembali ke rumah, Sosro tiba-tiba berkeinginan menghubungi Poch lagi. Tapi menurut informasi di Sumbawa Besar, saat itu Sosro memperoleh kabar kalau dr Poch sudah meninggal di Surabaya.

Poch meninggal pada 15 Januari 1970 pukul 19.30 di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya karena serangan jantung, di usia 81 tahun. Dia dimakamkan sehari kemudian di daerah TPU Ngagel Utara Surabaya.

Beberapa waktu sebelum meninggal, istrinya Eva Braun sempat pulang ke Jerman. Poch sendiri konon menikah lagi dengan nyonya S, wanita Sunda asal Bandung, karyawan di kantor pemerintahan di pulau Sumbawa Besar.

Untuk menemukan alamat nyonya S yang sudah kembali lagi ke Bandung, Sosro mengakui bukan hal mudah. Namun akhirnya ada juga orang yang memberitahu. Ternyata, ia tinggal di kawasan Babakan Ciamis. Semula nyonya S tidak begitu terbuka tentang persoalan ini. Namun karena terus dibujuk, sedikit demi sedikit mau juga nyonya S berterus terang.

Setelah menutup mulut, S akhirnya memberi semua dokumen milik suaminya pada Sosro, termasuk foto perkawinan, surat izin mengemudi lengkap dengan sidik jari Poch.

Ada juga buku catatatan berisi nama-nama orang Jerman yang tinggal di beberapa negara, seperti Argentina, Italia, Pakistan, Afrika Selatan, dan Tibet. Sementara di sampul dalam terdapat kode J.R. KepaD no.35637 dan 35638, dengan masing-masing nomor itu ditandai dengan lambang biologis laki-laki dan wanita.

“Jadi kemungkinan besar, buku itu milik kedua orang tersebut, yang saya yakini sebagai Hitler dan Eva Braun,” tegasnya dengan suara yang agak parau.
“Ada kemungkinan buku catatatan dimiliki dua orang, Hitler dan Eva Braun,” kata Sosro.

Ada juga tulisan yang diduga rute pelarian Hitler. Semua nama tempat itu ditulis dengan inisial, seperti B (Berlin), S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Belgrade), S (Sarajevo), R (Rome), sebelum dia ke Sumbawa Besar.

Istri kedua Poch, S juga menceritakan suatu hari dia melihat suaminya mencukur kumis dengan gaya mirip Hitler. Ketika dia bertanya, suaminya menjawab, “Jangan bilang siapa-siapa.”

Dilindungi Pribumi
Perang Dunia II Teater Asia-Pasifik, yang terjadi di Indonesia, diwarnai kehadiran pasukan Nazi Jerman. Aksi mereka dilakukan usai menyerahnya Belanda kepada Jepang di Kalijati, Subang, 8 Maret tahun 1942, atau 64 tahun silam. Namun, kehadiran Nazi Jerman ke Indonesia seakan terlupakan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia, secara umum melalui aksi sejumlah kapal selam (u-boat/u-boote) di Samudra Hindia, Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Malaka, pada kurun waktu tahun 1943-1945. Sebanyak 23 u-boat mondar-mandir di perairan Indonesia, Malaysia, dan Australia, dengan pangkalan bersama Jepang, di Jakarta, Sabang, dan Penang, yang diberangkatkan dari daerah pendudukan di Brest dan Bordeaux (Prancis) Januari-Juni 1943.

Beroperasinya sejumlah u-boat di kawasan Timur Jauh, merupakan perintah Fuehrer Adolf Hitler kepada Panglima Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine), Admiral Karl Doenitz. Tujuannya, membuka blokade lawan, juga membawa mesin presisi, mesin pesawat terbang, serta berbagai peralatan industri lainnya, yang dibutuhkan ”kawan sejawatnya”, Jepang yang sedang menduduki Indonesia dan Malaysia.

Sepulangnya dari sana, berbagai kapal selam itu bertugas mengawal kapal yang membawa oleh-oleh dari Indonesia dan Malaysia, hasil perkebunan berupa karet alam, kina, serat-seratan, dan lain-lain, untuk keperluan industri perang Jerman di Eropa.

Jerman sempat menggunakan Jakarta sebagai pangkalan pada Januari 1945. Sejak itu, berduyun-duyun kapal selam Jerman lainnya yang masih berpangkalan di Penang dan Sabang ikut pindah pangkalan ke Jakarta, sehingga Jepang kemudian memindahkan kapal selamnya ke Surabaya.

Namun, usai Jerman menyerah kepada pasukan Sekutu, 6 Mei 1945, banyak kapal-kapal Jerman pindah pangkalan dari Jakarta ke Singapura. Pada Juli 1945, kapal Jerman dihibahkan kepada Jepang.

Usai Jerman menyerah kepada Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, berbagai kapal selam yang masih berfungsi, kembali dihibahkan kepada Jepang. Setelah itu, sejumlah tentara Jerman yang ada di Indonesia menjadi luntang-lantung tidak punya kerjaan.

Yah, dalam hal ini sejarah tidak pernah (jarang) mencatat bahwa sebenarnya orang-orang Jerman sempat berada di Indonesia. Agar mereka mudah dikenali pejuang Indonesia dan agar tidak keliru disangka orang Belanda, orang-orang Jerman itu membuat tanda atribut yang diambil dari seragamnya dengan menggunakan lambang Elang Negara Jerman pada bagian lengan baju mereka.

Para tentara Jerman yang tadinya berpangkalan di Jakarta dan Surabaya, pindah bermukim ke Perkebunan Cikopo, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Mereka semua kemudian menanggalkan seragam mereka dan hidup sebagai warga sipil di sana.

Pengamat sejarah militer Jerman di Indonesia, Herwig Zahorka, mengisahkan, pada awal September 1945 sebuah Resimen Ghurka-Inggris di bawah komandan perwira asal Skotlandia datang ke Pulau Jawa. Mereka kaget menemukan tentara Jerman di Perkebunan Cikopo.

Sang komandan bertanya kepada Mayor Angkatan Laut Jerman, Burghagen yang menjadi kokolot di sana, untuk mencari tempat penampungan di Bogor.

Menggunakan 50 truk eks pasukan Jepang, orang-orang Jerman di Perkebunan Cikopo itu dipindahkan ke tempat penampungan di Bogor. Namun mereka harus kembali mengenakan seragam mereka, memegang senjata yang disediakan pasukan Inggris, untuk melindungi tempat penampungan yang semula ditempati orang-orang Belanda.
Saat itu, menurut Zahorka, di tempat penampungan banyak orang Belanda yang mengeluh, karena mereka dijaga oleh orang Jerman. ”Pada malam hari pertama menginap, langsung terjadi saling tembak namun tak ada korban. Ternyata orang-orang Indonesia menyangka orang Jerman telah tertangkap oleh pasukan Sekutu, dan mereka berusaha membebaskan orang-orang Jerman itu,” kata Zahorka.

Setelah peristiwa itu, Inggris menyerahkan sekira 260 tentara Jerman kepada Belanda yang kemudian ditawan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu.

Tercatat pula, beberapa tentara Jerman melarikan diri dari Pulau Onrust, dengan berenang menyeberang ke pulau lain.
Selama pelarian, mereka bergabung dengan pejuang kemerdekaan Indonesia di Pulau Jawa, bekerja sama melawan Belanda yang ingin kembali menjajah. Yah, tentara-tentara Jerman pada waktu itu sangat dilindungi oleh pribumi, terutama pejuang Indonesia. Bahkan kemungkinan dr Poch datang ke Indonesia, karena hubungan Jerman dan Indonesia pada waktu itu sebagai sahabat. Sehingga tidak menutup kemungkinan jika selama beberapa tahun berikutnya, posisi dr Poch atau Hitler begitu rahasia dan misterius.

Jasad Adolf Hitler yang dikenal dr Poch yang mati di Indonesia

Seorang saksi bernama Ahmad Zuhri Muhtar (55), mengaku pernah bertemu dr Poch di Rumah Sakit Umum Sumbawa. Poch pernah berpraktek di Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA), saat ini menjadi Puskesmas Seketeng.

“Kebetulan Puskesmas itu ada di dekat rumah,” kata Ahmad saat itu.

Ahmad mengaku saat duduk di kelas 1 atau 2 Sekolah Dasar, dia menjadi pasien dokter Poch.
“Saya sering diperiksa. Waktu itu perasaan saya takut. Gayanya kayak gitu bukan gaya dokter. Itu ingatan saya waktu masih kecil,” kata dia.

Dokter Poch yang dia kenal nampak garang. “Kalau dikatakan galak, nggak juga. Bahasa Indonesianya pas-pasan, dan ada gaya-gaya menggertak,” kata dia.

Poch, menurut Ahmad, tinggal di rumah dinas dokter di Kompleks Rumah Sakit Sumbawa bersama istrinya yang asal Jerman (Eva Braun). Ketika istrinya itu kembali ke negeri asalnya, Poch lalu kesepian. “Dia menyendiri lalu kawin lagi dengan istinya yang asal dari Jawa, saya tidak tahu persisnya, mungkin Garut,” cerita Ahmad.
Ada lagi fakta menarik soal dr Poch yang diungkap Ahmad.
Kata dia, dr Poch bahkan masuk Islam karena menikah dengan perempuan muslim. “Dia menikah secara Islam, resepsinya di pendapa kabupaten,” tambah Ahmad.

Setelah menikah itulah, dr Poch kemudian pindah ke Surabaya, ke tempat istri barunya. Dia juga sempat ke Bandung tapi sebentar (seperti cerita Sosro). Dan kembali lagi ke Surabaya.
Makam dr Poch di TPU Ngagel Utara Surabaya dengan batu nisan Islam. Makam itu diduga Adolf Hitler

Advertiser