Minggu, 02 Maret 2014

Inilah 6 Ramalan Kitab Jangka Jayabaya Yang Terbukti Benar Di Indonesia

Sejarah Kitab Jangka Jayabaya

Dalam perjalanan sejarah nusantara, nama Kediri tidak bisa dipisahkan dari tokoh yang sangat terkenal dan melegenda yakni Prabu Jayabaya yang bergelar Sri Maharaja Sri Warmmeswara Madhusudana Wataranindita Parakrama Digjayottunggadewanama Jayabhayalancana.

Dia lah tokoh yang malahirkan kitab ramalan yang hingga kini masih dianggap memiliki "tuah" dan dipercaya masih berlaku, yakni Jangka Jayabaya.

Prabu Jayabaya adalah raja keturunan Airlangga. Kisah tentang Jayabaya diawali ketika Airlangga membagi kekuasaan menjadi dua yakni Panjalu dan Jenggala.

Pembagian kerajaan ini setelah sebelumnya Airlangga gagal menjadikan anak dari permaisuri yakni Dewi Kilisuci yang menolak menjadi raja menggantikan Airlangga dan memilih menjadi petapa.

Dalam beberapa kitab kuno terbitan Boekhandel Tan Khoen Swie Kediri, cerita panjang Kediri berawal ketika pembagian kerajaan oleh Airlangga ternyata justru menimbulkan konflik di antara Panjalu dan Jenggala. Kedua kerajaan ini senantiasa perang saudara, diawali antara Samarawijaya (Panjalu) dan Panji Garasakan (Jenggala).

Tahun 1052 M terjadi perebutan kekuasaan antara kedua belah pihak. Awalnya Panji Garasakan dapat mengalahkan Samarawijaya. Tapi pada 1059 Masehi muncul seorang raja lain, yaitu Raja Samarotsaha. Raja itu berkuasa di Kerajaan Jenggala.

Raja Samarotsaha adalah menantu Raja Airlangga. Namun, tahun 1104 Masehi tampil Kerajaan Panjalu sebagai rajanya yaitu Jayawangsa. Kerajaan ini lebih dikenal dengan nama Kediri yang beribu kota di Daha.

Tahun 1117 M Bameswara tampil sebagai raja Kediri. Prasasti yang ditemukan antara lain, Prasasti Padlegan (1117 M) dan Panumbangan (1120 M). Isinya pemberian status perdikan untuk beberapa desa.

Menurut ahli sejarah Kediri, Ki Tuwu atas konflik yang berkepanjangan itu pada 1135, tampil raja yang terkenal yaitu Raja Jayabaya. Jayabaya ingin mengembalikan kejayaan seperti masa Airlangga dan ternyata ini berhasil, Panjalu dan Jenggala dapat bersatu kembali. Hal itu dijelaskan dalam Prasasti Hantang (1057 Saka) atau 1135 M dituliskan kata Pangjalu Jayati, artinya Panjalu menang berperang atas Jenggala dan sekaligus untuk menunjukkan bahwa Jayabaya adalah pewaris takhta kerajaan yang sah dari Airlangga.

"Beliau adalah orang yang kuat, adil, bijaksana, berilmu bathin tinggi, berperasaan halus dan berpikiran tajam serta dapat meramalkan hal-hal yang belum terjadi," kata Ki Tuwu seperti dikutip merdeka.com

Menurut Ki Tuwu, Prabu Jayabaya pernah berguru kepada seorang pendeta sakti yang amat dihormatinya. Dalam atlas walisongo, karya R.Ng. Agus Sunyoto guru yang dihormati itu adalah Syaikh Syamsuddin yang dikenal dengan nama Syaikh Wasil yang makamnya berada di Komplek Makam Auliya Setonogedong, Kota Kediri. Hubungan kedua orang ini juga disinggung dalam Kakawin Hariwangsa.

Dalam epilog Kakawin Hariwangsa Karya Mpu Panuluh yang memaparkan keberadaan Sri Mapanji Jayabaya dan guru penasehatnya dalam gambaran yang menyatakan bahwa Wisnu telah pulang ke Surga, tetapi turun kembali ke bumi dalam bentuk Jayabaya untuk menyelamatkan tanah Jawa.

Sebagai titisan Wisnu Jayabaya ditemani oleh Agastya yang menitis dalam diri pendeta kepala Brahmin penasihat raja. Prof Dr. Poerbotjaraka dalam Agastya in den Archapel memaparkan hubungan Jayabaya (titisan Wisnu) dengan gurunya (titisan Agastya) dengan mengutip sajak Kakawin Hariwangsa yang ditulis Mpu Panuluh yakni :

hana desa lengong leyep langonya / ri yawadwipa kasankhya nusa sasri / palupuy hyang agastya tan hanoli / ya tika trasa hilang halepnya mangke // umuwah ta sira ng watek hyang aswi / anuduh te ri bhatara padmanabha / ya tika pulihen langonya raksan / ri sira, hyang hari tan wihan lumampah // irikan dadi bhupati prasidha / maripurnaken ikang prajatisobha / subhaga n madhusudanwatara / sira ta sri jaya satru kaprakasa //

(Terjemahan bebesnya adalah : Ada sebuah negeri yang indah, keindahannya laksana impian, disebut pulau Jawa, sebuah pulau yang megah. Jawa adalah kitab dari Agastya yang sakti tiada bandingan, pulau itu itu sekarang dihinggapi ketakutan, sehingga keindahnnya lenyap. Kemudian berkumpul dewa-dewa bersama Hyang Aswi. Bersama-sama memohon dengan sangat kepada bhatara Padmanabha, untuk memperbaiki dan menjaga keindahan pulau tersebut. Dewa Hari ikut serta pergi kesana. Kini ia telah benar-benar menjadi raja, yang menyempurnakan lagi kehidupan hamba sahayannya, dia adalah inkarnasi dari Madhusudana-awatara. Dia termasyhur dengan nama Sri Jaya-Satru (Jayabaya).

Sebagian orang menafsirkan guru Jayabaya adalah Mpu Sedah. Sementara sebagian yang lain menafsirkan bahwa Mpu Sedah adalah guru Jayabaya dibidang sastra. Sedangkan biksu pandhita adhikara yang disebut dalam Hariwangsa adalah Syaikh Syamsuddin Al Wasil, yang tidak sekadar mengajarkan ilmu perbintangan dan nujum, melainkan menunjukkan karomah-karomah yang digambarkan seperti kesaktian Rsi Agastya.

Menurut R. Ng Agus Sunyoto, ahli sejarah yang menulis Atlas Walisongo, sebutan Biksu dan kemudian pandhita lazim digunakan untuk menyebut tokoh-tokoh Islam pada zaman itu. Seperti area makam Fatimah binti Maimun yang dalam prasasti Leran disebut Susuk (tempat suci). Sebutan untuk Syaikh Maulana Malik Ibrahim, pengangkatan saudara tua Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang bernama Ali Murtadlo sebagai Raja Pandhita di Gresik. Sebutan Pandhita Ampel untuk Sunan Ampel dan Pandhita Giri untuk Sunan Giri.

Ramalan Kitab Jangka Jayabaya Yang Terbukti Benar Di Indonesia

Kitab ramalan Jayabaya yang hingga kini masih dianggap memiliki 'tuah' dan dipercaya masih berlaku, yakni Kitab Jangka Jayabaya. Salah satu ramalan Jayabaya yang paling kesohor adalah soal para pemimpin negeri ini. Ramalan Jayabaya menyebut bahwa pemimpin Indonesia yang berarti presiden adalah No-To-No-Go-Ro.

Banyak yang percaya dan meyakini dengan ramalan tersebut. Hal ini karena pemimpin di negeri ini sesuai dengan apa yang ditulis Kitab Jangka Jayabaya, yakni Notonogoro. Namun selain Notonogoro, Raja Kediri ini juga memiliki beberapa ramalan lainnya. Ramalan itu pun diyakini dan benar-benar terjadi.

Berikut 6 Ramalan Kitab Jangka Jayabaya Yang Terbukti Benar Di Indonesia :

1. Jawa akan terpecah-pecah

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Prof Arysio Santos, Ph.D dalam bukunya Atlantis The Lost Continent Finally Found disebutkan atlantis adalah negeri tropis yang berlimpah mineral dan kekayaan hayati. 

Namun segala kemewahan itu lenyap tersapu bencana maha besar yang memisahkan Jawa dari Sumatera, menenggelamkan lebih dari separuh wilayah nusantara. Kejadian itu diperkirakan pada 11.600 tahun yang lalu.

Apa yang diteliti oleh Arysio tersebut menurut ahli sejarah Kediri, Ki Tuwu sebenarnya sudah dijelaskan dalam Kitab Jangka Jayabaya. 

"Itu masuk dalam periodesasi zaman besar kedua yang disebut dalam Kitab Jangka Jayabaya adalah Zaman Kalijaga artinya zaman tumbuhan. Di Jawa yang saat itu masih menyatu dengan pulau-pulau lain mengalami perubahan, yakni terpecah menjadi pulau-pulau kecil," kata Ki Tuwu saat berbincang dengan merdeka.com.

2. Marak seks bebas

Kitab Jangkan Jayabaya juga banyak memberikan perlambang dan sindiran yang bisa dibuktikan hingga sekarang, contohnya fenomena seks bebas yang hingga kini masih sering terjadi di masyarakat. Menurut paranormal asal Kediri, Jawa Timur, Ki Tuwu, kemahiran Prabu Jayabaya ini dia dapatkan dari Syaikh Syamsuddin Al-Wasil.

Dalam Kitab Jangka Jayabaya pernah diungkapkan bahwa nanti akan banyak kaum laki-laki dan perempuan yang akan kehilangan rasa hormat sampai rasa malu.

"Ada lagi yang menarik ungkapan dalam Kitab Jangka Jayabaya yakni :

wong wadon ilang kawirangane wong lanang ilang prawirane. Artinya banyak perempuan hilang rasa malunya dan banyak laki-laki hilang kehormatannya. Saya tidak mau mendahului kehendak Allah, namun ini sudah terbukti," kata Ki Tuwu.

Yang terakhir Ki Tuwu mengutip dari Kitab Jangka Jayabaya yakni : 

akeh udan salah mangsa, akeh prawan tua, akeh randa nglairake anak, akeh jabang bayi lahir nggoleki bapake. Artinya banyak hujan turun bukan pada musimnya, banyak perawan tua yang terlambat menikah karena terlalu memilih-milih pasangan dan juga mementingkan karier. Banyak janda melahirkan anak (akibat hubungan bebas) dan banyak yang lahir mencari siapa ayahnya.

"Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua agar tetap eling lan waspada," ujar Ki Tuwu.

3. Praktik korupsi di mana-mana

Kitab Jangka Jayabaya memprediksi akan terjadi praktik korupsi di tanah air yang dulu masih bernama Nusantara. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya pejabat yang haus akan kekuasaan dan melanggar sumpah-sumpah jabatannya.

Perlambang itu lain adalah : 

akeh janji ora ditetepi, akeh wong nglanggar sumpahe dewe (artinya - banyak orang melanggar janji dan sumpah jabatan yang diartikan untuk para pejabat banyak dilanggar, misalnya hakim berkhianat, pejabat yang korupsi dan lain sebagainya)

Akeh menungso mung ngutamakke duwit, lali kemenungsan, lali kebecikan lali sanak lali kadang (Banyak manusia yang hanya mengutamakan uang, lupa perikemanusiaan, lupa kebaikan dan lupa saudara.

"Silakan dinalar sendiri, kejadian-kejadian yang diramalkan Sang Prabu Jayabaya terbukti," kata Ki Tuwu.

4. Hilangnya pasar pagi dan munculnya pesawat terbang-kereta api

Menurut Ki Tuwu, dalam Kitab Jangka Jayabaya banyak mengeluarkan sindiran untuk kehidupan di masa depan seperti sekarang. Jayabaya bisa memprediksi akan muncul pesawat terbang dan kereta api. Selain itu pasar rakyat yang biasanya ramai di pagi hari kini sudah tak bisa didengar lagi dalam radius 5 km.

Beberapa sindiran tersebut antara lain : 

Mbesuk yen ana kereta mlaku tanpa jaran, tanah Jawa kalungan wesi, prahu mlaku ing duwur awang-awang, kali ilang kedunge pasar ilang kumandange. Iku tanda yen tekane jaman Joyoboyo wis cedak.

Kalau diterjemahkan : 

besok kalau sudah ada kereta berjalan tanpa kuda, tanah Jawa berkalung besi - artinya adanya kereta api, perahu berjalan di atas angkasa - artinya terciptanya pesawat terbang. Sungai hilang kedungnya artinya kehilangan sumber air dan ini sudah terbukti, termasuk pasar hilang kumandangnya, di mana zaman dahulu pasar di pagi hari seperti suara lebah karena suara pedagang dan pembeli bisa terdengar di radius 5 km," kata Ki Tuwu.

5. Tren orang mencari pesugihan

Selain memprediksi munculnya teknologi pesawat terbang dan kereta api, dalam Kitab Jangka Jayabaya juga mengatakan akan maraknya fenomena orang-orang tergila-gila dengan pesugihan karena malas untuk bekerja mencari uang.

Perlambang tersebut mengatakan : 

Akeh wong nyambut gawe apik-apik pada krasa isin, luwih utama ngapusi. Wegah nyambut gawe kepengen kepenak, ngumbar nafsu angkara murka, nggedekake duraka
Artinya : 

Banyak orang yang bekerja baik-baik merasa malu, lebih utama menipu. Banyak yang malas bekerja tapi pengen kaya (mencari pesugihan tumbal,red). Banyak orang mengumbar nafsu angkara murka dan memperbesar perbuatan durhaka

6. Pulau Jawa sering terjadi banjir

Ramalan ini benar-benar terjadi parah di pulau Jawa hingga kini. Raja Jayabaya sudah memprediksi sejak dulu bahwa pulau Jawa akan banyak digenangi banjir. Zaman itu disebut olehnya Zaman Kalatirto.

Zaman Kalatirto atau zaman air, di Jawa sering terjadi banjir karena Sang Hyang Raja Kano yang bertahta di Negara Purwocarito sering menata batu besar untuk membendung kali dan bengawan. Ini dihitung mulai tahun 301-400 tahun surya atau mulai tahun 310-412 tahun candra.

Advertiser