Selasa, 08 April 2014

Membongkar Tarif "Cabe-cabean" Jakarta

Cahgalek.com - Sebelum membahas tarif "Cabe-cabean", kita kenali dulu Istilah Cabe-cabean. Cabe-cabean adalah sebutan untuk perempuan ABG yang menjadi bahan taruhan di arena balap liar. "Cabe" balapan yang sudah sering berhubungan seksual memilih untuk menjual dirinya.

Bagi orang awam, istilah ini digunakan untuk menggambarkan gadis di bawah umur yang mulai merintis bisnis prostitusi.

Belakangan ini "cabe-cabean ramai diberitakan. Saat ini, ada tiga jenis "cabe", yakni "cabe ijo", "cabe merah", dan "cabe oranye".

"Cabe ijo" yang memiliki kelas tertinggi dari kelas "cabe-cabean" itu merupakan gadis di bawah umur yang berusia sekitar 14-17 tahun. Tak sedikit dari mereka yang merupakan siswa sekolah menengah atas (SMA), bahkan beberapa ada yang masih berada di sekolah menengah pertama. Mereka memiliki gaya busana yang modis dan trendi, tetapi tidak menonjol.

Berbeda dengan "cabe-cabean" lainnya, "cabe ijo" hanya dapat dijumpai di beberapa pusat perbelanjaan kelas atas ataupun lokasi-lokasi gaul di bilangan Jakarta. Kebanyakan mereka ditemui secara berkelompok dan hanya memilih pelanggan yang sudah dikenalnya lewat media sosial, seperti Twitter dan Facebook.

"Cabe ijo" juga aktif di media sosial. Mereka kerap memasang foto-foto dengan pose tertentu dan informasi tarif di akun media sosial mereka. Mereka bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK) untuk memenuhi kebutuhan tersier seperti membeli pakaian, telepon genggam, sehingga tidak mudah bagi pelanggan untuk menyewa jasanya karena harus melalui tahapan pendekatan.

Pendekatan, di antaranya, bisa berupa mem-follow akun Twitter-nya, kerap me-retweet atau rajin memberikan komentar.

Sementara itu, "cabe merah" adalah PSK yang berusia 16-19 tahun. "Cabe merah" sedikit lebih menonjol karena berani mengenakan pakaian mini dan menonjolkan lekuk tubuh. Mereka pun kerap menghabiskan waktu di minimarket ataupun klub-klub malam di Jakarta.

"Cabe merah" relatif lebih mudah dicari. Mereka biasanya beroperasi sesuai jam operasional klub, mulai pukul 22.00-03.00. Transaksinya juga jelas, tinggal ditanya, langsung jalan.

Selanjutnya "cabe oranye". Tipe ini biasanya berkumpul di taman, arena parkir liar, ataupun pinggir jalan. Pada beberapa kesempatan, "cabe-cabean" ini menggunakan berbagai modus untuk menjaring pelanggan, mulai dari mengamen ataupun ikut para pebalap liar. "Cabe oranye" menjadikan ini sebagai profesi tetap. [Baca: Ciri-ciri Cewek "Cabe-cabean"]

Lalu, berapa tarif booking cabe-cabean. Seperti dikutip dari kompas.com tarif cabe-cabean di Jakarta bisa sampai 30 juta. Yuk kita ikuti penelusuran kompas, membongkar tarif cabe-cabean di Jakarta!

Waktu sudah menunjukkan hampir lewat tengah malam di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, tak jauh dari Kantor Wali Kota Jakarta Barat.

Remaja laki-laki berusia sekitar 16 tahun langsung bersemangat begitu melihat ada sebuah mobil berhenti. "Mencari 'cabe-cabean', Om?" tanyanya kepada seorang pengendara mobil. Remaja itu tak sendiri. Dia berlima dengan rekannya, masing-masing membawa sepeda motor.

Dari lima remaja itu, empat di antaranya mengaku masih duduk di kelas X SMK. Seorang lagi sudah putus sekolah sejak SMP. Mereka punya bisnis "cabe-cabean", tetapi baru dalam tahap merintis.

Salah satu remaja itu meminta dipanggil Chito (bukan nama sebenarnya). Di antara rekan-rekannya, baru dia yang punya stok "cabe-cabean".

"Saya punya dua stok 'cabe' yang siap diantar apabila ada yang memesan jasanya," katanya terus terang.

Satu "cabe" masih gadis. Usianya baru 16 tahun dan masih duduk di kelas X SMA. Ia mengatakan bahwa orang yang dimaksud cantik, berkulit putih, dan berambut panjang. Namanya Sasya (bukan nama sebenarnya). "Ia dijamin masih gadis. Harganya Rp 20 juta," ujarnya.

Kemudian, satu "cabe" lainnya jauh lebih murah karena bukan gadis lagi. Sama seperti Sasya, dia masih duduk di kelas X SMA. Namanya Dini (bukan nama sebenarnya). Sekali melayani tamu, tarifnya Rp 500.000. "Satu kali saja, Mas, dan tinggal mencari hotel saja," kata remaja itu.

Namun, Dini tak bisa melayani tamu di atas pukul 22.00 lantaran harus pulang ke rumah pada jam itu, kecuali pada akhir pekan. Sementara Sasya hanya bisa sampai pukul 17.00 karena orangtuanya mengharuskan Sasya harus sudah pulang.

Dini dan Sasya punya perbedaan. Dini tadinya "cabe" di arena balapan liar. Saat duduk di kelas II SMP, Dini sudah melepas kegadisannya senilai Rp 15 juta. Chito mengaku mengenal Dini dari arena balap liar.

Sementara Sasya, kata Chito, dikenalnya di sebuah pusat perbelanjaan. Setelah keduanya sering kontak dan jalan bareng, Sasya meminta Chito menjual kegadisannya.

Chito mengaku, menjual Dini lebih mudah ketimbang menjual Sasya. "Kalau Sasya harus bos-bos soalnya. Kalau Mas punya bos mau, kabari saja, atau tawarin saja sekalian, naikkan tarifnya. Nanti kelebihannya untuk Mas," kata Chito.

Di Jakarta, pasaran "cabe" gadis paling mahal Rp 30 juta. Transaksi ini pernah terjadi di kawasan Kemayoran. "Makanya, nanti Sasya mau saya coba tawarkan di Kemayoran. Bisa lebih tinggi di sana," kata Chito.

Advertiser