Selasa, 15 April 2014

MH370 Dibajak, Kini Ada Di Afghanistan?

Cahgalek.com - Intelijen Rusia punya kabar mengejutkan di tengah proses pencarian pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 di perairan Samudera Hindia.

Seperti dikutip dari detik.com, MH370 diyakini sudah dibajak dan berada di Afghanistan. Seluruh penumpang selamat namun menjadi sandera. Informasi ini dilansir Mirror.co, Minggu (13/4/2014) yang mengutip berita dari koran Rusia, Moskovsky Komsomolets.

Moskovsky Komsomolets menulis, MH370 sudah dibajak oleh teroris dan memaksa pesawat mendaratkan di sekitar Kandahar. Seluruh awak kapal dan penumpang, sebut intelijen masih hidup. "Pilot tidak bersalah, pesawat itu dibajak oleh teroris yang belum teridentifikasi," tulis sumber koran tersebut sambil menyebut teroris dengan panggilan 'Hitch'.

Penumpang dibagi dalam tujuh kelompok. Mereka dipaksa tinggal digubuk lumpur dengan pasokan makanan yang sangat minim. Penumpang dari Asia ditempatkan di sebuah bunker di Pakistan. Saat ini proses tawar menawar dengan pemerintah Amerika maupun China masih terjadi. [Baca juga: Pesawat Malaysia Airlines Dibajak, Inilah Rutenya]

Berita ini sendiri belum dikonfirmasi dari pemerintah Malaysia atau China.

Terkait berita koran rusia tersebut, Jurnalis Afganistan yang bertugas di wilayah Kabul dan Kandahar, Mirwais Jalalzai, menuturkan berita yang menyebutkan pesawat MH370 saat ini dibajak bersama seluruh penumpangnya dan disembunyikan di Kandahar adalah tidak masuk akal. "Sebagai jurnalis, saya kaget dengan berita dari Rusia dan juga media Inggris itu (Mirror.co.uk). Bagaimana mungkin pesawat sebesar itu bersembunyi di provinsi kecil, Kandahar di Afganistan," kata Mirwais kepada Tempo, Senin malam, 14 April 2014.

Kandahar, ia menjelaskan, merupakan provinsi yang terletak di selatan Afganistan yang berbatasan dengan Pakistan. Di Kandahar tidak ada bandara yang dapat didarati oleh pesawat komersial seperti MH370. Hanya ada satu bandara kecil yang digunakan untuk pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat dan pesawat-pesawat kecil untuk penerbangan domestik. "Saat ini hanya di ibu kota negara kami, Kabul, seperti Jakarta, memiliki bandara internasional. Namun, bandara itu pun belum memenuhi standar internasional. Begitu pun bandara ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kami," ujar jurnalis yang bekerja untuk beberapa media internasional itu.

Di Afganistan, kata Mirwais, ada sejumlah pasukan internasional bertugas yang dipayungi oleh pasukan Amerika Serikat dan pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Mereka hadir untuk mendukung pemerintah Afganistan dan ditempatkan di setiap tempat, termasuk di Kandahar. "Wilayah udara negara kami dalam pengawasan ketat pasukan Amerika Serikat. Pemerintah Afganistan tidak memiliki kemampuan untuk mengawasi lalu lintas udara," kata jurnalis yang juga bekerja untuk media lokal, Kabulpress.

Jadi, ia melanjutkan, setiap penerbangan yang akan terbang ke dan dari wilayah Afganistan harus seizin pasukan Amerika Serikat yang ada di Afganistan. Bahkan, penerbangan di dalam negeri juga diawasi ketat. 

Memang, ia mengenang, sebelum peristiwa 11 September 2001 terjadi pembajakan terhadap pesawat India yang diterbangkan ke Kandahar, Afganistan. Namun di masa itu, bandara di Kandahar dalam kondisi yang baik. Setelah pasukan Amerika datang dan kekuatan Taliban dihancurkan, bandara dijaga dengan sangat ketat oleh pasukan Amerika. "Jadi, betapa ketatnya pengawasan untuk wilayah udara kami," ucapnya.

Sebelum pasukan Amerika masuk ke Afganistan, Kandahar merupakan benteng kekuatan milisi bersenjata Taliban pada 2011. Setelah itu Kandahar jatuh ke tangan pasukan Amerika Serikat. Begitu ketatnya pengawasan,  menurut Marwais, sehingga nyamuk pun tidak dapat melintas di wilayah itu tanpa sepengetahuan pasukan Amerika.

Itu sebabnya Mirwais tidak percaya MH370 dapat memasuki wilayah Afganistan tanpa diketahui siapa pun. "Siapa yang mungkin menyembunyikan pesawat sebesar itu di sana?" Lagipula, ujarnya, bagaimana mungkin para pembajak diam selama 1,5 bulan tanpa menyampaikan tuntutan apa pun.

Ia menduga intelijen Rusia menyampaikan informasi itu karena tidak setuju keberadaan pasukan Amerika di Afganistan. Mungkin, kata Marwais, Rusia ingin menunjukkan bahwa wilayah udara Afganistan masih rentan dari pengawasan.

Namun begitu, Marwais mengatakan dirinya dan penduduk Afganistan berdoa untuk keselamatan pesawat dan seluruh penumpangnya."Kami turut berduka dan sedih bersama keluarga penumpang. Doa kami bersama kalian," ujarnya.

Sementara itu, operasi pencarian pesawat Malaysia Airlines sendiri masih terus dilanjutkan. Upaya pencarian melibatkan 14 kapal dan 10 pesawat dari berbagai negara.

Untuk pencarian hari ini akan difokuskan pada wilayah pencarian yang total mencapai sekitar 41.393 kilometer persegi. Pusat pencarian berada sekitar 2.331 kilometer barat laut Perth, Australia.

Advertiser