Senin, 12 Mei 2014

Menguak Panti Pijat Plus-Plus di Surabaya

Cahgalek.com - Panti pijat sebenarnya izinnya adalah kategori rekreasi dan hiburan umum. Pemerintah melarang adanya praktik asusila di tempat tersebut. Misalnya, terapis yang memberikan servis sampai making love (ML). Tapi, meski regulasi sudah ketat, masih ada yang diam-diam melancarkan praktik terlarang. Itu bisa terjadi karena pengawasan pemerintah setempat kurang.

Di Surabaya sendiri, Panti pijat banyak tersebar di beberapa wilayah. Panti pijat itu kini berubah menjadi tempat prostitusi terselubung. Di antaranya, di ruko Jalan Kalibokor Gubeng, ruko di dekat Terminal Bratang, ruko Kedungdoro, ruko Darmo Park, dan di Jalan Tunjungan.

Sekilas panti pijat itu tidak mencurigakan. Misalnya, di kawasan Kedungdoro, ketika masuk, pengunjung disambut resepsionis yang menawarkan pijat. Pengunjung langsung diberi nomor loker untuk menyimpan pakaian.

Sebelum pijat dimulai, pengunjung bisa memilih terapis. Ada sebuah buku yang di dalamnya terdapat foto-foto perempuan. Ada sekitar 50 perempuan. Jika sudah cocok, tinggal menunjukkan foto yang dipilih kepada petugas dan menunggu di kamar. Terapis akan datang selang beberapa menit sesuai dengan pilihan.

Kamar juga cukup nyaman. Terdapat kasur yang ditempatkan di lantai. Kamar itu dilengkapi AC dan kamar mandi dalam. Setiap ruangan itu ditempeli tulisan dilarang berbuat asusila.

Saat dipijat, terapis memijat seluruh badan. Pemijatan tersebut berjalan sekitar 30–45 menit. Di menit-menit akhir pemijatan, pengunjung akan ditawari servis lebih oleh pemijat. Tambahan pelayanan itu cukup menggiurkan. Mulai (maaf) "hand job" bahkan sampai making love (ML).

"Untuk ’hand job’, tarifnya Rp 200 ribu. Kalau making love (ML) Rp 500 ribu," kata terapis tersebut, seperti dikutip dari jpnn.com, Rabu (7/5/2014).

Jika deal, terapis segera menyiapkan segalanya, termasuk membawakan kondom. Setelah ML, pengunjung akan dimandikan dan membayar. Setelah semua selesai, pengunjung keluar dari panti pijat seolah tidak terjadi apa-apa.

Lain halnya dengan panti pijat di Jalan Tunjungan. Lokasinya berada di dekat hotel ternama. Sekilas, bangunan itu tidak terlihat seperti panti pijat karena tidak ada papan nama. Tapi, ketika masuk ke dalam gedung, pengunjung akan disajikan puluhan perempuan yang duduk di sofa. Jumlahnya sekitar 50 perempuan. Mereka mengenakan baju seksi. Pengunjung tinggal memilih, setelah itu langsung membayar Rp 750 ribu di kasir. Setelah semuanya beres, petugas akan mengantar ke kamar.

Ukuran kamar cukup besar. Di dalamnya terdapat kamar mandi dalam, spring bed, serta sofa. Sebelum pijat, pengunjung harus mandi terlebih dahulu. Setelah itu, baru dipijat. Berbeda dengan di Kedungdoro, di Jalan Tunjungan ketika memijat pelanggan, baik terapis maupun pelanggan tidak mengenakan pakaian selembar pun.

Pemijatan pun berjalan sebentar. Hanya 15 menit. Terkesan hanya sebagai syarat. Setelah itu, pengunjung bisa melakukan apa pun sesuka mereka.

Sementara itu, hal tidak jauh berbeda terdapat di panti pijat di kawasan ruko dekat dengan Pasar Burung Bratang. Dari luar panti pijat itu tidak ada yang mencurigakan. Begitu pula ketika masuk ke dalam.

Para terapis yang semuanya perempuan mengenakan pakaian yang tidak terbuka. Yakni, kemeja dan celana jins panjang. Mereka duduk berjejer di sofa sembari memainkan handphone.

Setelah memilih terapis, pelanggan bisa naik ke lantai 2 untuk mulai dipijat.

"Dicopot semua ya pakaiannya. Termasuk CD-nya juga. Biar gak pliket (lengket) nanti kena lotion," ujar Tari (bukan nama sebenarnya), si terapis.

Pemijatan dimulai dari area punggung dan diakhiri di bagian tangan. Pemijatan tersebut berlangsung sekitar 45 menit. Namun, di sela-sela pemijatan di area tangan, Tari berusaha menawarkan servis lain.

"Sudah atau mau tambah servis yang lain? Murah kok,"ujarnya.

Dia hanya memasang tarif Rp 90 ribu untuk pemijatan. Namun, perempuan 26 tahun itu memasang tarif Rp 300 ribu untuk servis all in. Yakni, layanan pijat sekaligus bercinta.

Berbeda dengan tempat lainnya, pembayaran dilakukan langsung antara pelanggan dan terapis.

"Terima kasih ya, kapan-kapan datang lagi," ucap Tari kepada pelanggan.

Advertiser