Senin, 28 Juli 2014

9 Kota di Indonesia yang Memiliki Tradisi Unik Saat Lebaran

Cahgalek.com - Mudik sudah menjadi ritual tahunan yang dilakukan warga Indonesia untuk merayakan hari raya Idul Fitri atau Lebaran. Tujuan mereka mudik karena ingin berkumpul dengan sanak saudara di hari yang suci.

Dimana mereka bisa meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat dimasa lampau terhadap keluarga, terutamanya kepada orang tua. Namun tahukah kamu? kalau di beberapa daerah di Indonesia ada yang memiliki tradisi unik saat merayakan Idul Fitri atau Lebaran.

Penasaran? Berikut adalah beberapa daerah di Indonesia yang menggelar tradisi unik setiap Lebaran atau  Hari Raya Idul Fitri, seperti dikutip dari bandungreview.com

1. Harus Makan! – Papua

Jika kamu akan berlebaran di Papua, kamu harus siap dengan perut kosong! Karena setiap kamu berkunjung ke rumah kerabat di sana, maka kamu harus ikut menyantap hidangan khas Lebaran yang disediakan oleh tuan rumah. Jika tidak, kamu akan di cap tidak sopan.

2. Grebeg Syawal – Yogyakarta

Grebeg syawal adalah tradisi “menggerebeg” gunungan yang berisi kacang panjang, cabai, dan hasil bumi lainnya. Tradisi ini dilakukan setiap tanggal 1 syawal sebagai perwujudan sedekah dari Sultan kepada rakyatnya. Masyarakat berebut mendapatkan isi dari gunungan karena dipercaya dapat mendatangkan berkah dan ketentraman bagi siapa saja yang mengambilnya.

3. Bakar Gunung Api – Bengkulu

Tradisi ini dilakukan oleh Suku Serawak, Mereka menyusun batok kelapa seperti tusuk sate sehingga membentuk gunungan, lalu membakarnya itulah maksud dari tradisi ini. Dipercaya bahwa batok kelapa menyimbolkan ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga doa bagi arwah keluarga agar hidup tentram di akhirat.

4. Perang Topat – Pulau Lingsar, Lombok Barat

Tradisi perang topat adalah warga sekitar saling melempar ketupat satu sama lain. Tradisi ini biasa dilakukan satu minggu setelah sholat eid. Tradisi ini dipercaya dapat mengabulkan doa-doa mereka yang telah dipanjatkan di Hari Raya Idul Fitri.

5. Meriam Karbit – Pontianak

Malam Takbiran menjadi sangat menakutkan di Pontianak karena suara meriam akan berdentum semalaman. Meriam berukuran jumbo yang terbuat dari batang kayu ini biasa dipasang di tepian sungai Kapuas. Dahulu, meriam ini dinyalakan untuk mengusir kuntilanak, namun sekarang itu dinyalakan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri.

6. Ngejot – Bali

Nyama selam adalah sebutan penduduk Bali yang beragama Hindu kepada kerabat mereka yang beragama Islam. Menjelang Hari Raya Idul Fitri warga muslim di Bali menggelar tradisi “ngejot” atau membagi-bagikan makanan kepada masayarakat sekitar tanpa membeda-bedakan agama yang  dianutnya. Sehingga tercipta keharmonisan saat hari Lebaran nanti.

7. Kenduri Lebaran – Katapang, Kalimantan Barat

Tradisi kenduri Lebaran adalah tradisi berkunjung ke rumah kerabat lalu membacakan doa dirumahnya. Kegiatan ini biasa diiringi dengan tradisi “ketupat colet” yaitu cara memakan ketupat yang berbeda dengan biasanya. Ketupat yang sudah dipotong-potong tidak boleh dimakan langsung menggunakan sendok dan lauk pauk, melainkan “dicolet”.

8. Ilo Sanggari – Dompu, Nusa Tenggara Barat

Sebelum adanya penerangan seperti lampu, warga Dompu menyambut hari Lebaran dengan membakar ilo sanggari atau lentera. Warga percaya bahwa dengan membakar ilo sanggari akan mengundang malaikat dan roh leluhur yang akan memberikan berkah di hari Lebaran keesokan harinya. Namun sekarang, tradisi ini jarang dilakukan karena lentera sudah jarang digunakan.

9. Tradisi Kupatan - Trenggalek

Nah inilah tradisi unik dan seru di kota admin. Mungkin tradisi makan ketupat  sudah lazim dilakukan oleh umat muslim di pulau jawa sehabis merayakan hari raya idul fitri. Namun hal itu  berbeda dengan tradisi lebaran ketupat (Kupatan) di kota admin.

Tradisi ini dilakukan oleh warga kecamatan Durenan dan kelurahan Kelutan,Trenggalek. Tradisi lebaran ketupat dilakukan pada H+7 lebaran idul fitri atau setelah menjalan puasa sunnah selama 6 hari.

Yang menarik lagi bos, pada saat kupatan setiap rumah menggelar open house dan menyediakan makanan berupa ketupat dengan aneka macam sayur dan siapapun boleh mampir baik kenal maupun tidak kenal. Jadi ramainya di Kecamatan Durenan dan Kelurahan Kelautan justru pas lebaran ketujuh.

Tradisi ini berawal dari kebiasaan keluarga KH Abdul Mahsyir atau yang lebih akrab disebut Mbah Mesir yang merupakan salah satu ulama di kecamatan Durenan, Mbah Mesir merupakan putra kiai Yahudo, Slorok, Pacitan, yang masih keturunan Mangkubuwono III, salah seorang guru Pangeran Diponegoro.

Konon pada waktu itu setiap sehabis hari raya idul fitri pertama , Mbah mesir selalu di undang oleh bupati Trenggalek ke pendopo . Di situlah Mbah mesir menjalankan puasa selama eman hari bertutur-turut dan setelah itu pulang ke kediamanya di Durenan, sehabis pulang dari pendopo, mayarakat sekitar selalu sowan (bersilaturahmi) ke rumah Mbah Mesir. Setelah Mbah Mesir meninggal dunia, Tradisi kupatan masih terus dilestarikan hingga sekarang.

Buat kamu yang mau berwisata ke Trenggalek pada Lebaran H+7 silahkan mampir makan kupat sepuasnya di kota admin. Dijamin Gratiiis..

Nah, itulah 9 tradisi unik perayaan lebaran atau Idul Fitri yang ada di Indonesia.

Advertiser