Minggu, 13 Juli 2014

Menguak Praktek PSK Warnet dan PSK Online di Yogyakarta

Cahgalek.com - Praktek prostitusi di kota Yogyakarta selama bulan Ramadan ini ternyata juga masih dilakukan oleh sejumlah wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) kota Yogyakarta yang biasa mangkal di warung internet (warnet) ternyata masih dapat leluasa membuka ‘praktek’nya meski tengah berada di bulan suci Ramadhan.

Seperti dikutip dari Krjogja.com, para wanita PSK spesialis warnet ini dengan mudah dapat kita jumpai di setiap layanan chating terkemuka MIRc yang sangat populer dengan hastag #Yogyakarta, #Jogja atau #Jogjakarta selama bulan Ramadhan ini.

Hampir setiap hari mereka nampak menawarkan diri untuk menarik lelaki hidung belang agar mau kencan dengan mereka. Dengan mematok tarif berkisar Rp100 ribu untuk layanan oral sex dan Rp250-300 untuk sekali berhubungan sex, para wanita berusia muda ini seolah tak peduli dengan keberadaan bulan suci Ramadhan bagi umat muslim, dengan tetap membuka praktek di tempat umum seperti warnet.

Untuk meyakinkan para pelanggannya, mereka bahkan berani menjamin ‘keamanan’ proses transaksi mesum yang mereka lakukan di sejumlah warnet di kota Yogyakarta itu.

“Dijamin aman say, gak perlu kuatir. Gak bakal ada razia,” ujar salah satu PSK spesialis warnet sebut saja Nita yang mengaku berusia 21 tahun. Dalam melakukan prakteknya, para wanita PSK spesialis warnet ini pun tak sembarangan memilih tempat warnet.

Mereka umumnya memanfaatkan sejumlah warnet dengan bilik setinggi hampir 2 meter yang tertutup rapat sehingga aman untuk beraksi.

Sejumlah warnet di kawasan Jl Demangan Baru dan Jl Raya Seturan, Depok Sleman kerap menjadi tempat mangkal mereka. “Biasanya mereka nampak pada malam hari. Khususnya pada hari-hari di akhir pekan seperti malam Minggu atau minggu malam,” ujar salah seorang pengguna PSK spesialis warnet sebut saja Andi.

Pihak pengelola warnet tempat dimana para PSK spesialis warnet biasa mangkal itu pun seperti tak peduli dengan praktek prostitusi terselubung tersebut. Entah benar atau hanya sekedar pura-pura, mereka mengaku tidak tahu menahu tentang kegiatan para PSK spesialis warnet tersebut di dalam bilik. “Kita tidak tahu soal itu. Yang jelas kita hanya sebatas menyediakan jasa layanan warung internet saja. Soal apa yang dilakukan para user itu di dalam bilik kita sudah tidak tahu. Karena itu merupakan tanggung jawab mereka masing-masing,” ujar salah seorang operator warnet yang enggan disebutkan namanya.
 
Tak hanya itu, praktek prostitusi di kota Yogyakarta selama bulan Ramadan ini ternyata juga masih dilakukan oleh sejumlah wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) panggilan yang kerap menjajakan diri secara online.

Tak seperti PSK spesialis warnet dan capster salon maupun therapis panti pijat plus-plus yang membuka praktek di tempat yang cenderung menetap, para PSK panggilan online ini memang sedikit sulit dilacak.

Tempat Mangkal Cewek Panggilan Yogyakarta

Hal itu karena mereka memilih untuk melakukan eksekusi dengan para lelaki hidung belang di hotel-hotel kelas melati secara berpindah-pindah.

Setelah berhasil menjaring ‘tamu’ lewat media layanan chating, para PSK online ini biasanya akan menunjuk salah satu hotel sebagai tempat transaksi. Titik-titik hotel melati tersebut antara lain berada di kawasan Jalan Veteran, Jalan Mentri Supeno, Jalan Batikan, Jalan Gedongkuning, seputaran Jalan Parangtritis, Jalan Gejayan hingga Jalan Kaliurang.

Tak hanya itu, mereka juga biasa menyewa kamar-kamar kos seperti di kawasan Jalan Seturan dan Jalan Palagan untuk melakukan eksekusi. Bahkan tak sedikit pula para PSK panggilan online ini juga mau untuk mendatangi rumah atau tempat kos dimana para tamu itu tinggal.

Dengan tarif berkisar antara Rp300-700 ribu short time, para PSK yang rata-rata berusia 16-27 tahun ini hampir setiap hari selama bulan suci Ramadan dapat kita jumpai menjajakan dirinya secara online. Tak jarang mereka merupakan gadis-gadis asal luar daerah yang sedang menjalani studi di Yogakarta.

Nadia salah satunya. Gadis berusia 17 tahun asal Bandung yang baru saja lulus SMA ini memang sedang berada di Yogyakarta untuk mendaftar masuk pada salah satu perguruan tinggi. Ia mengaku membuka praktek sekedar untuk mengisi waktu sekaligus menambah uang saku. “Aku sih gak kejar target. Kalau dapet sih sukur kalau enggak ya gak masalah,” ujarnya.

Lain Nadia lain pula Sofi. Wanita 26 tahun yang mengaku telah beranak satu ini memang sengaja merantau ke Yogyakarta untuk membuka praktek. Hampir setiap hari ia selalu stanby untuk menunggu tamu dan pelanggan. Baginya bulan suci Ramadan tak beda dengan bulan lainnya dimana ia harus tetap mendapatkan penghasilan demi menghidupi diri dan anaknya. “Yang penting cek in dulu di hotel, nanti aku datang. Kalau mau threesome (bermain dengan dua wanita sekaligus) juga bisa. Nanti aku ajak teman aku, tapi tarifnya beda lho,” ujarnya menggoda.

Advertiser