Senin, 04 Agustus 2014

Miris, Banyak Pelajar di Kotim Jadi PSK

Cahgalek.com - Praktik prostitusi terselubung di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, khususnya di Sampit, sudah sangat memprihatinkan karena sudah melibatkan anak di bawah umur, bahkan ada yang berstatus pelajar.

”Ada yang masih sekolah SMA dan masih di bawah umur. Ini memang fakta yang sangat memprihatinkan, khususnya bagi kami, para orangtua. Ini harus menjadi perhatian serius kita semua,” ujar Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kotim, Rihel.

Rihel menegaskan, dirinya tidak mengada-ada karena fakta menyedihkan itu memang benar-benar terjadi di daerah ini. Dari beberapa kali razia penyakit masyarakat belum lama ini, lebih dari sepuluh anak di bawah umur yang terjaring razia dan diketahui menjadi pemuas nafsu lelaki.

Awalnya ia memang cukup sulit mempercayai kejadian itu. Namun, setelah para pemuas nafsu lelaki itu ditanya, yang bersangkutan tidak membantah bahwa mereka memang terjerumus ke dalam praktik prostitusi di usianya yang masih sangat muda.

Hasil perbincangan dengan para belia tersebut, rata-rata mengaku terjerumus ke lembah hitam itu karena dua alasan, yakni faktor ekonomi dan ada pula yang terpengaruh pergaulan bebas.

”Ada yang mendapat kiriman uang sangat sedikit dari keluarganya di kampung, sementara di Sampit ini mereka harus bayar sewa barak, biaya sekolah, dan lainnya. Akhirnya, karena tidak kuat godaan, mereka terjerumus prostitusi. Tapi, ada pula yang disebabkan pergaulan bebas. Kadang hanya karena ingin membeli telepon canggih, mereka rela menjual diri. Ada pula yang karena faktor suka-sama suka,” ujar Rihel.

Selain yang terlibat prostitusi, pergaulan bebas di kalangan remaja, termasuk pelajar, juga sudah sangat memprihatinkan. Dalam beberapa kali razia, juga ada pasangan pelajar yang tertangkap basah berduaan di penginapan atau barak.

Protitusi terselubung ini juga membuat masyarakat setempat resah dan seolah tidak percaya dengan kabar bahwa prostitusi liar di Kotim, yang sudah merambah ke kalangan pelajar. Mereka kaget dan masih tidak percaya perbuatan nista itu terjadi di daerah tersebut.

”Ngeri kalau membayangkan, apalagi kita yang punya anak perempuan, jadi makin waswas. Ini harus menjadi perhatian serius semua pihak karena akan merusak generasi muda. Jangan sampai ini memengaruhi pelajar-pelajar lain,” kata Susi, salah seorang warga Sampit, Minggu (3/8) seperti dilansir antaranews.

Masyarakat berharap pemerintah daerah bertindak cepat menangani masalah ini agar tidak terus merusak generasi muda. Dikhawatirkan, pergaulan bebas yang tidak terbendung akan menyeret banyak remaja terjerumus pada perbuatan terlarang itu.

”Naudzubillah minzalik. Mudah-mudahan tidak meluas karena ini sangat menyedihkan. Kami sebagai orang tua tentu harus mengawasi anak kami lebih ketat. Kami juga berharap kepada sekolah dan pemerintah daerah untuk turut membina anak-anak, termasuk sering melakukan razia,” ujar Masni, warga lain.

Masni mengakui, kadang orangtua sibuk bekerja sehingga kurang komunikasi dengan pihak sekolah. Kondisi itu bisa saja menjadi peluang bagi anak untuk keluyuran karena orang tua tidak mengetahui sekolah sedang libur atau tidak ada jam pelajaran sekolah.

Advertiser