Minggu, 07 September 2014

Menguak Prostitusi Terselubung di Kota Batu

Cahgalek.com - Teori sosial perkotaan mendalilkan, salah satu kelengkapan sebuah kota disebut metropolis adalah prostitusi. Dunia prostitusi yang dulu dianggap sebagai hal tabu oleh masyarakat Indonesia pada saat ini, sepertinya telah menjadi sesuatu yang biasa. Gejala demikian bisa kita buktikan dengan semakin banyaknya praktek-praktek prostitusi baik yang dianggap seolah-olah resmi maupun yang liar.

Seperti halnya di Kota Wisata Batu yang menjadi kota wisata sepertinya sulit untuk menjauh dari prostitusi. Walaupun Pemerintah Kota tidak melegalkan bisnis prostitusi, tetapi ada saja yang membuka usaha yang didalamnya berunsur prostitusi.

Prostitusi terselubung berkedok panti pijat kebugaran atau spa memang semakin menjamur. Hal ini tak lepas dari kebutuhan hidup yang semakin tinggi.
Panti pijat yang memperkerjakan terapis wanita seringkali berkonotasi negatif. Apalagi kalau sang terapis memakai seragam minim.

Seperti dikutip dari memoarema.com, salah satu usaha panti pijat ini tersebar di kawasan Jl Ir Soekarno, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Sedikitnya ada 8 panti pijat di kawasan ini.

Di bilik sempit berukuran 2 x 2 meter itu, Ana bekerja sebagai terapis. Tugasnya memijat tamu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Termasuk memberikan servis pijat plus dengan tambahan tips. Itupun kalau pelanggan meminta.

Ana mengaku sudah bekerja setahun di sebuah panti pijat di kawasan Kecamatan Junrejo ini. Bayarannya per bulan tidak tentu, tergantung jumlah tamu yang dipijatnya.Harga setiap jam pijat sebesar Rp 75 ribu. Tapi dari jumlah itu, Ana mengaku hanya mendapat Rp 10 ribu. “Kalau mengandalkan honor dari uang pijat kecil, Mas. Sebulan paling cuma dapat Rp 500 ribuan,” kata Ana.

Karena itu, Ana memilih mengejar tips dari konsumen. Untuk itu, janda 30 tahun ini tak segan-segan menerima permintaan konsumen pijat plus.

Dari satu konsumen, Ana bisa mendapat Rp 50.000 hingga Rp 300.000 per konsumen.Jika satu hari bisa memijat dua hingga tiga pelanggan, Ana bisa mengantongi lebih dari Rp 5 jutaan dalam sebulan. “Kalau tidak begini, bagaimana bisa hidup. Karena saya harus menghidupi 2 anak yang masih kecil. Sementara bapaknya pergi tak tahu rimbanya,” kata Ana yang mengaku berasal dari Sidoarjo ini.

Pertama kali bekerja sebagai terapis, Ana mengaku ditawari teman. Sebelumnya dia bekerja sebagai pengamen naik turun bus kota. Saat itu, dia sempat bekerja bersama sang suami yang bekerja sebagai pengamen juga. Namun, menginjak usia perkawinan ke 8 tahun, mulai goyah.

Suami pergi, ditinggali 2 anak yang masih butuh biaya tinggi seperti susu dan feed suplemen lainnya. “Dengan terpaksa untuk mencukupi kebutuhan hidup harus menjadi terapis,” kata dia.

Sebelum bekerja, terlebih dulu Ana ditraining memijat. Awalnya dia mengaku risih memijat lelaki, apalagi meminta pijat aneh-aneh. Tapi setelah seminggu, Ana sudah biasa menjalani profesi barunya.

Ana pun mengaku tak masalah dibooking untuk melakukan hubungan intim. Asal harganya cocok, perempuan muda ini mau saja diajak. Syaratnya dilakukan di luar jam kerja. Di panti pijat, terapis tak diperkenankan melakukan hubungan badan. “Teman-teman juga rata-rata seperti saya. Bisa kok kalau mau dibooking,” tutupnya sambil tersenyum manis.

Selain menjamurnya panti pijat, di Kota Batu menjamur juga  rumah karaoke keluarga. Keberadaan rumah karaoke keluarga pun dinilai sebagian masyarakat juga mulai menyimpang dan juga berpotensi menjurus ke arah negatif.

Tercatat sudah 9 tempat rumah karaoke berdiri di Kota Batu. Diantaranya, Doremi, Vips, Bella Vista yang berada di kawasan Jl Dewi Sartika, Zamrud di Jl Abdul Gani Atas dan Samba di Jl Panglima Sudirman. Masih ada  BNS, Zamrud, BTC dan Dhogado.

Bukan isapan jempol belaka dari beberapa razia yang dilakukan aparat, masih saja ditemukan pengguna narkoba, pesta miras hingga seks terselubung bersama purel yang masih kebanyakan bau kencur di beberapa  rumah karaoke di kota wisata ini.

Memang tidak semua tempat tersebut menyediakan purel, tetapi ada juga yang terang-terangan menyediakan, bahkan kita bebas memilih para purel itu di ruangan khusus. Ruangan ini sengaja diisi para ABG berdandan seksi dan menggoda, bertarif Rp 50 ribu-Rp 60 ribu per rjam yang siap menemani kita berkaraoke.

Di tempat lain yang tidak menyediakan para purel, belum tentu tempat ini aman akan keberadaan para Purel, karena ada istilah purel freelance. Purel freelance memang tidak di sediakan oleh pihak pengelola.
Kebanyakan purel jenis ini, mendatangi tempat-tempat karaoke keluarga untuk nongkrong dan menawarkan diri menemani pengunjung untuk berkaraoke bersama.

Keberadaan mereka sebenarnya sangat kentara bagi orang awam sekalipun. Karena dandanannya sedikit menor, berpakaian seksi, wangi yang berlebihan. Beberapa dari mereka juga perokok.

Salah satu tempat karaoke di Batu sebagian  menjajakan pegawai purel yang bertubuh seksi, berkaki jenjang. Dengan menggunakan rok mini dan pakaian yang serba minim membuat para pelanggan lelaki selalu tertarik untuk menjajal jasa mereka menarik suara bahkan jasa mereka di atas ranjang.

Sekitar pukul 19.00, salah satu tempat karaoke di Batu, seorang purel bernama Vivi terlihat sedang menerima tamu beberapa pria di salah satu ruangan. Selama dalam ruangan kecil berukuran 3 x 4 meter, dia menyanyi dan bergoyang selama 2 jam.

Vivi mengatakan bahwa tarif purel pada umumnya dibanderol Rp 60 ribu per jamnya. “Ya kalau per jamnya untuk menemani menyanyi sih ditarifin Rp 60 ribu, kalau lagi rame biasanya semalam bisa bawa pulang uang Rp 1 juta,” ujar Vivi.

Vivi mengaku bahwa tenaga purel di bisnis karaoke tersebut bebas kontrak dari manajemen pihak karaoke.

Mereka bebas menawarkan diri kepada para pelanggan apabila ada pelanggan yang mau mencoba jasa mereka untuk menemani berkaraoke ria. “Kalau purel di sini bebas Mas. Kita terlepas dari manajemen. Mau masuk atau tidak ya bebas karena yang bayar ya pelanggan,” ujarnya.

Pengakuannya, dia tidak pernah melayani pelanggan di luar tempat karaoke tempat dia bekerja sebagai purel. Namun, ia mengatakan bahwa ada beberapa temannya yang juga mau diajak keluar. “Kalau saya tidak pernah, kalo temen saya sih ada. Tarifnya cuma nggak tentu, tergantung yang booking berapa orang,” paparnya.

Ia mengaku mengetahui bahwa ada temannya yang bisa dibooking semalam dengan tarif Rp 500 ribu. Bahkan menurut dia, purel yang dibooking tersebut biasanya sudah punya pelanggan tetap. “Kalau saya pernah tahu teman saya yang pernah diajak keluar sama pelanggan tetapnya, katanya dia dibayar dengan bayaran Rp 500 ribu,” ujar Vivi.

Setelah waktu berkaraoke habis pun, Vivi biasanya menghabiskan rokok sembari menunggu bayaran diberikan. Setelah bayarannya lunas, dia menghampiri seorang waitrees untuk membayar biaya administrasi dan kebersihan.

Pemandangan berbeda dijumpai memasuki sebuah rumah karaoke di kawasan Jalan Dewi Sartika Atas Batu. Sekitar jam 7 malam di tempat itu sudah disambut senyum beberapa orang didalamnya. Kemudian menunjukkan sebuah ruangan. Di dalamnya sudah ada belasan wanita yang siap dipilih untuk menemani berkaraoke ria.

Memang tidak ada tarif yang jelas pada awalnya. Namun kalau ada kecocokan bisa langsung dicomot diajak ke ruang karaoke. Usai berkaraoke nanti akan disodori nota, biaya karaoke Rp 60 ribu per jam untuk room small. Biaya purelnya Rp 60 ribu per jam. Belum termasuk tips buat purel.

Puncaknya, usai diajak menemani karaoke si purel bisa dilanjutkan berintim-intiman. Kali ini purel yang siap itu bernama Sari usianya 27 tahun. Tinggi sekitar 155 cm dengan balutan baju yang semakin menunjukkan keseksiannya. Rok mini dan baju yang menunjukkan belahan dada.
“Gimana bisa dilanjutkan keluar,” kata konsumen berupaya melanjutkan kesenangan itu. Dengan senyum menggoda Sari menjawab bisa, saja asalkan cocok semuanya. “Asal cocok bisa dilanjut,” kata Sari sambil menghisap rokok mild di tangannya.

Tanpa panjang lebar kesepatan dibuat dengan nilai Rp 500 ribu sampai pagi. Tempatnya pun sudah ditentukan, pastinya di kawasan vila di Songgoriti.

Menuju ke rumah sewa atau vila dari tempat karaoke itu tidak terlalu jauh. Hanya beberapa menit saja sudah sampai di kawasan rumah sewa itu. Depan pintu gerbang masuk kawasan Songgoriti sudah banyak tukang ojek maupun calo yang siap mengantarkan ke vila.

Kawasan Songgoriti merupakan pilihan utama di daerah ini bagaimana tidak harga sewa villa kamar di sekitaran wisata air panas Songgoriti ini cukup terjangkau mulai dari Rp 80.000 hingga Rp 275.000 per malam per kamar tergantung fasilitas yang ditawarkan.

Harga sewa villa di Songgoriti ini termasuk murah, karena dengan harga segitu pengunjung akan mendapatkan fasilitas kamar lengkap dengan TV, DVD player, kamar mandi dalam, springbed, dispenser lengkap dengan kopi, teh dan gula. Villa kamaran sangat cocok bagi traveller yang membutuhkan tempat untuk istirahat dengan kocek minim.

Di Kota Batu, sajian seks bukan hanya di tempat karaoke atau panti pijat saja, melainkan juga di pasar. Seperti halnya di pasar Batu, bukan hanya tempat perdagangan kebutuhan sembilan pokok (sembako) tetapi juga menyediakan pemuas syahwat.

Lorong di dalam pasar Batu
Menuju ke Pasar Besar Batu lokasinya tidak sulit mencarinya. Pasalnya pasar Batu ini termasuk pasar yang usianya sudah lama. Setidaknya masih peninggalan Kabupaten Malang, ketika sudah menjadi aset Kota Batu belum pernah dipugar.

Jadi, tempatnya masih di kawasan Jalan Dewi Sartika Kelurahan Temas Kecamatan Batu. Lokasi pasar Batu ini terbilang luas, yang mencapai 4 hektar. Terdiri beberapa unit, mulai pasar buah, rombeng, pracangan, sandang hingga pasar sayur.

Area esek-esek itu sepertinya sudah menjadi rahasia umum. Artinya, tidak sulit menemukan. Beberapa orang di pasar itu dengan jelas bisa menunjukkan. “Perempuan yang bisa diajak begituan banyak, mas. Biasanya nongkrong di warung kopi, juga di beberapa penjual pakaian bekas,” kata salah satu sumber ketika ditanya tentang perempuan pemuas syahwat yang ada di pasar tersebut.

Informasi dari sumber itu ternyata tidak meleset. Lokasinya memang seperti pasar tradisional lainnya. Terdiri stand-stand dengan lorong memanjang.

Pasar itu tidak seramai, unit-unit lainnya, kala itu. Lorongnya agak remang-remang. Lokasinya ada warung kopi juga ada yang jualan baju bekas.

Dalam pasar itu ada sebuah warung yang lebih ramai dari warung lainnya. Ada beberapa perempuan yang usianya rata-rata sudah lebih dari 35 tahun. Ternyata tempat itulah mangkalnya perempuan pemuas syahwat tersebut. Boleh dibilang tidak vulgar. Namun guyonan  mereka mengarah soal kasur dan ranjang.

Pada saat yang bersamaan, datang seorang lelaki yang usianya 50-an tahun  mengenakan jaket kulit hitam dan memakai topi koboi. Lelaki itu menghampiri sekumpulan perempuan di warung itu. Kemudian, entah apa yang dibicarakan. Lelaki itu bersama seorang perempuan keluar dari sekumpulan perempuan lain dan keluar dari pasar.

Ketika ditelusuri lebih lanjut, kedua pasangan itu sudah sepakat harga. Tinggal mencari lokasi untuk memuaskan hasrat alias hohohihenya. “Kalau sudah deal seperti itu. Biasanya cari hotel kelas melati atau vila di kawasan Oro-oro Ombo atau Songgoriti,” kata sumber Memo yang tak mau disebut namanya.

Salah satu pekerja seks komersial (PSK) sebut saja namanya AT (45) mengatakan melakukan kerja seperti ini sudah dijalani lebih 2 tahun di pasar Batu. “Jadi, kita sudah punya pelanggan tetap,” kata AT yang mengaku berasal dari Malang selatan ini.

Siapa saja pelanggannya? AT katakan pelanggannya itu rata-rata bukan anak muda. Kebanyakan usianya diatas 45 tahun. “Kalau anak muda mana mau sama kita,” kata dia dengan tawa.

AT katakan soal tarifnya macam-macam. “Kalau diajak ke vila kita minta Rp 50 ribu. Tapi kalau hanya minta dikeluarkan aja pake tangan, sepuluh ribu bisa,” ucap AT.

Berdasarkan data  Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Kota Batu tahun 2013 ada sekitar 37 wanita penghibur yang sering mangkal di dalam pasar. Usia mereka berkisar 25-50 tahun. Namun sebagian besar dari mereka berasal dari luar Kota Batu. Adapun yang berasal dari Batu sendiri sekitar 5 persennya.

Data KPAD, bahwa pada tahun 2003-2013 telah ada 114 kasus HIV-Aids di Kota Batu. Dari jumlah itu, yang kondisinya parah hingga menyebabkan meninggal dunia ada sebanyak 44 kasus.

Advertiser