Senin, 01 September 2014

Cerita Minak Sopal Trenggalek Anak Buaya Putih?

Cahgalek.com - Hari ini, Kota admin yaitu Trenggalek merayakan ulang tahunnya yang ke-820. Di hari spesial Trenggalek ini admin akan memberikan ulasan tentang sejarah Minak Sopal Trenggalek yang admin ambil dari berbagai sumber.

Trenggalek termasuk kabupaten kecil di Jawa Timur yang hanya mempunyai sedikit sejarah. Ini hanya cerita rakyat yang sangat terkenal di Daerah Trenggalek, yang diceritakan secara lisan dan turun temurun. Banyak versi tentang cerita Menak Sopal ini, tetapi pada dasarnya isinya tetap sama.

Menurut hikayat, ada seorang  yang berasal dari Mataram yang bertugas mengatur daerah di timur Ponorogo yang sekarang disebut Trenggalek, yang bernama Ki Ageng Galek.

Seringkali jika kita berbicara tentang Mataram selalu dihu-bungkan dengan Kerajaan Mataran Islam. Sedangkan yang dimaksud Mataram dalam cerita Menak Sopal ini tidak demikian. Sebab Mataram yang dimaksud di-sini adalah Mataram milik Majapahit. Hal ini dibuktikan dari Kitab Negara Krta-gama pupuh VI bait 3, yang menyebutkan antara lain:

..... Haji raja ratw ing Mataram lwir Yang Kumara nurun ..... dalam bahasa Indonesia ..... Raja di Mataram laksana Dewa Kumara datang di bumi ..... (lihat Prof. Dr. Slamet Mulyana Nagarakretagama dan tafsir sejarahnya, Bhatara, Jakarta, 1979, halaman 276). (-,-:112)

Dalam hikayat juga disebutkan bahwa, Ki Ageng Galek (mbah Galek / mbah Kawak) yang makamnya ada di Setono – Trenggalek adalah Muballigh atau Penyiar Agama di Trenggalek yang tertua yang ada peninggalannya. Muballigh yang lebih dulu mungkin sudah ada, tetapi tidak ada bukti peninggalannya.

Ki Ageng Galek dibantu oleh 6 santri (ada sumber yang menyebutkan bah-wa santri ini adalah sahabatnya, ada juga sumber yang menyebutkan bahwa santri ini adalah putranya sendiri), yaitu:

Ki Joyonagoro; berkedudukan di Joyonegara atau Jonegaran.
Ki Sosuto; berkedudukan di Sosutan.
Ki Dobongso; berkedudukan di Dobangsan.
Ki Ardimanggala; berkedudukan di Redimenggalan.
Ki Surohandaka; berkedudukan di Surondakan.
Ki Singomanggala; berkedudukan di Singomenggalan.

Kemudian ada (datang) seorang Muballigh muda yang masih bujangan membuka perguruan (pondok) di daerah Bagong yang bernama Minak Sraba. Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, datang pula seorang putri dari Keluarga Raja Majapahit yang beragama Islam yang bernama Rara Amiswati, yang menjadi anak angkat Ki Ageng Galek. (Wilis,2006:8)

Dalam cerita di babad Trenggalek disebutkan bahwa Ki Ageng Galek ditugasi untuk memelihara seorang putri yang berasal dari Majapahit yang bernama Dewi Amiswati atau Dewi Amisayu, sebab kaki putri tersebut berpenyakit luka – luka dan berbau amis atau busuk.

Dalam cerita itu memang nama puteri tadi tidak diketahui dengan pasti. Hal ini memang sudah menjadi kebiasaan bagi Suku Jawa, ingat saja akan cerita Wayang Purwa yang terdapat nama Dewi Laraamis yang karena mempunyai penyakit badannya berbau busuk lalu oleh ayahan-da raja ditugasi menjadi penyeberang Bengawan Silugangga, yang nanti akhirnya akan ditolong oleh Palasara yang merupakan penurun keluarga Pandawa dan Kurawa.

Ki Ageng Galek merasa bingung dalam melaksanakan tugas ini, sebab semua obat telah dipergunakan guna menyembuhkan penyakit sang puteri Amisayu. Sudah berjenis – jenis obat yang digunakan tapi penyakitnya tidak bisa sembuh. Karena itu disuruhnya Dewi Amisayu mandi di Sungai Bagongan (Sungai tersebut sekarang terletak di Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek).

Karena merasa malu dan sedih hati, maka Putri Amisayu bersamaan dengan menjalani ritual mandi di sungai tersebut mengucapkan sayembara bahwa siapa saja yang dapat menyembuhkan luka – lukanya bila wanita akan dianggap saudara dan bila pria akan dijadikan suaminya.

Berita ini didengar oleh raja dari seluruh buaya yang berkedudukan di Lubuk (kedung) Bagongan, yang kulitnya berwarna putih. Karena itu disebut buaya putih. Buaya tersebut bernama Menak Sraba.

Kata buaya mengandung lambang bahaya, sedangkan putih adalah lambang kesucian, yang berarti kesucian suatu agama. Sedangkan kata Menak biasa dipakai oleh golongan priyayi pada jaman Islam, utamanya dari suku Sunda yang sampai sekarang kata Menak bagi suku Sunda berarti golongan bangsawan.

Jadi disini Menak Sraba adalah pimpinan umat Islam di daerah sekitar Trenggalek yang oleh Ki Ageng dan golongannya yang masih beragama Hindu dianggap musuh yang membahayakan. Sedangkan kedung atau lubuk mengandung makna dalam. Jadi kalau Minak Sraba berasal dari Kedung berarti pimpinan umat Islam yang berasal dari pedalaman.

Akhirnya, Menak Sraba berganti wujud menjadi manusia. Disamping Menak Sraba berwajah tampan, juga mau merendahkan diri. Hal ini tampak di dalam cerita ketika Menak Sraba mengobati luka – luka Dewi Amisayu dengan cara menjilati luka di kaki sang dewi tadi.

Disini Menak Sraba lalu berwujud seolah – olah seperti ksatria Hindu yang dengan rendah hati memuji – muji Dewi Amisayu. Akibat dari tindakan ini Ki Ageng Galek mau menerima Menak Sraba sebagai anggota keluarganya dan mengawinkannya dengan Dewi Amisayu.

Ketika Dewi Amisayu hamil 7 bulan, Menak Sraba memberi pantangan – pantangan  yang tidak boleh dilanggar, antara lain Dewi Amisayu tidak diper-kenankan membuka penutup buah dadanya (bahasa jawa: mekak) dan ikat ping-gang kain panjangnya (bahasa jawa: bengkung) pada waktu matahari tenggelam.

Namun apa daya, mungkin telah menjadi kodrat Tuhan Yang Maha Esa yang ti-dak dapat dihindari, karena pada suatu hari pada waktu matahari tenggelam, Dewi Amisayu menjemur penutup buah dadanya dan membuka ikat pinggang kain pan-jangnya.

Sesudah itu Dewi Amisayu masuk ke dalam rumah dan sangat terkejut ketika menemui buaya putih dalam ruang itu. Apalagi ketika buaya putih ini berbicara seperti manusia, yang menerangkan bahwa sebenarnya buaya putih itu adalah Menak Sraba yang merupakan suaminya sendiri.

Buaya putih itu berkata bahwa besok bila Dewi Amisayu berputra laki – laki hendaklah diberi nama Menak Sopal. Dari gambaran cerita ini dikandung maksud perlambang bahwa Dewi Amisayu tidak diperkenankan menjemur atau membuka penutup buah dadanya dan ikat pinggang kain panjangnya di waktu Maghrib.

Yang dimaksud disini adalah Dewi Amisayu tidak diijinkan bertelanjang bulat pada waktu Maghrib. Karena itu Dewi Amisayu bertelanjang memasuki ruang ternyata pada waktu itu Menak Sra-ba sedang Sholat Maghrib dan ternyata tidak dapat diganggu tafakurnya terhadap Tuhan, meskipun Dewi Amisayu telah bertelanjang bulat.

Sejak itulah Dewi Amisayu mengetahui bahwa suaminya tidak beragama Hindu tetapi sudah menjadi pemeluk agama Islam.

Guna menghindari kericuhan dalam keluarga dan rakyat Ki Ageng Galek, maka Menak Sraba kembali ke tempatnya yang semula dengan me-ninggalkan Dewi Amisayu.

Beberapa bulan sepeninggalan Menak Sraba, Dewi Amisayu melahirkan puteranya yang berjenis kelamin laki – laki dan diberi nama Menak Sopal.

Singkat cerita, ketika Menak Sopal sudah dewasa, Menak Sopal meminta keterangan kepada ibunya tentang siapa sebenarnya ayahnya, Dewi Amisayu terpaksa berkata bahwa sebenarnya ayah Menak Sopal adalah buaya putih penjaga Kedung Bagongan.

Ketika Menak Sopal mendengar uraian ibunya ini, maka segeralah dia memohon diri untuk pergi mencari ayahnya. Setelah beberapa waktu melakukan per-jalanan, akhirnya Menak Sopal bisa bertemu dengan ayahnya.

Disitulah Menak Sopal dididik dan diberi pelajaran Agama Islam. Sepulang Menak Sopal dari Ke-dung Bagongan menuju Trenggalek, mulailah perjaka yang telah menjadi muslim ini berfikir bagaimana cara agar rakyat Trenggalek bersedia memeluk agama Rosul.

Disini Menak Sopal harus menarik hati rakyat Trenggalek. Untuk itu, rakyat Trenggalek yang pada waktu itu sebagai petani yang daerahnya sangat kekurangan air, maka perlu didirikan tanggul air agar pengairan bisa memberi kemak-muran di daerah tadi.

Inilah salah satu alat yang dapat dijadikan pegangan agar rakyat Trenggalek mau beragama Islam. Menak Sopal berusaha membuat tanggul atau bendungan di Sungai Bagong.

Berulang kali bendungan itu dibuat tetapi selalu gagal. Untuk itu Menak Sopal meminta petunjuk ayahnya dan diberitahu bahwa bendungan bisa terwujud bila ditumbali kepala gajah putih.

Untuk itu Menak Sopal mengirimkan utusannya ke tempat Randa Krandon (janda yang bertempat tinggal di Krandon) yang mempunyai gajah putih.

Janda Krandon tidak keberatan untuk meminjamkan gajah putihnya asal setelah selesai tugasnya dalam membantu pembuatan bendungan hendaklah segera dikembalikan ke Krandon.

Utusan Menak Sopal menyanggupinya. Akhirnya gajah putih dibawa ke Trenggalek dan di dekat Sungai Bagongan gajah putih disembelih dan daging-nya dibagi – bagikan kepada rakyat yang bekerja untuk membuat Bendungan Bagong, sedangkan kepalanya dijadikan tumbal disitu.

Ketika sudah ditumbali dengan kepala gajah putih, maka bendungan itu dapat diwujudkan. Air mulai me-ngairi sawah – sawah dan dapat diatur guna keperluan sehari – hari penduduk Trenggalek.

Rakyat Trenggalek bersuka ria karena sawahnya dapat ditanami padi dua kali dalam setahun, padahal dulu hanya merupakan sawah tadah hujan saja. Hasil pertanian kian melimpah ruah menambah kesenangan hidup para petani. Dari tindakan Menak Sopal inilah rakyat Trenggalek mau memeluk Agama Islam.

Di dalam cerita ini diceritakan bahwa bendungan itu diberi tumbal kepala gajah putih. Yang dimaksud gajah putih adalah lambang Agama Buddha dan Hin-du.

Gajah adalah lambang kebesaran, putih adalah lambang kesucian suatu agama. Jadi yang dimaksud disini adalah pimpinan – pimpinan agama Hindu Buddha di daerah itu dapat diajak kerjasama oleh Menak Sopal untuk membuat bendungan, dan setelah berhasil rakyatnya merasa lebih berbahagia bila beragama Islam, karena disitu dijelaskan bahwa badannya gajah itu dagingnya dibagi – bagikan kepada rakyat dan kepalanya dipenggal dan dijadikan tumbal.

Disini mengandung arti bahwa pimpinan agama Hindu dan Buddha dipisahkan dari rakyatnya dan dengan sendirinya gajah putih itu mati, yang berarti agama Hindu dan Buddha lenyap dan berganti dengan agama Islam. (Gajah putih adalah lambang Negara Muangthai yang memeluk agama Buddha).

Di dalam cerita ini juga terdapat tanda kebenaran bahwa sila ketiga dari Pancasila yang meliputi kerukunan umat beragama juga pada waktu itu telah dilaksanakan.
Jadi tidak mustahil bila rakyat Trenggalek sekarang menganggap Menak Sopal adalah Bapak Pertanian pada jaman dahulu.

Janda Krandon sudah lama menanti kedatangan gajah putih tidak pernah dikembalikan. Karena itu janda Kradon terpaksa menyiapkan tentaranya untuk meminta kembali gajah putihnya dari tangan Menak Sopal.

Untuk menghindari pertumpahan darah di daerah Trenggalek, maka Menak Sopal minta pertolongan ayahnya dan bersama – sama membuat lorong di dalam tanah yang oleh rakyat sekitar biasa disebut gangsiran dari daerah Trenggalek ke rawa Ngembel.

Gangsiran atau lorong di dalam tanah mengandung perlambang penyebaran agama Islam yang dilakukan secara diam – diam.

Janda Krandon yang menyiapkan tentaranya berjaga – jaga di puncak gunung sekitar Trenggalek sambil menanti gerak gerik tentara Menak Sopal. Karena terlalu lama di daerah itu sampai tangkai tombak prajurit – prajuritnya dimakan bubuk, akibatnya daerah itu diberi nama Gunung Bubuk.

Sehubungan dengan itu janda Krandon terpaksa membatalkan ke-hendaknya untuk menyerang daerah Trenggalek.

Di dalam cerita itu dinyatakan bahwa tentara – tentara janda Krandon tangkai tombaknya dimakan bubuk (tombak harus mempunyai tangkai, bila tidak bertangkai maka tombak tidak dapat dipergunakan lagi. Dengan kata lain tidak berfungsi lagi). Disini yang dimaksud dengan tangkai tombak adalah rakyat Krandon. Dan maksud dari dimakan bubuk adalah rakyat disini sudah terkena pengaruh Menak Sraba dan Menak Sopal yang menyebarkan agama Islam secara diam – diam (gangsiran).

Akibatnya rakyat Trenggalek akhirnya beragama Islam. Karena itu, ujung tombak atau pimpinan yang masih beragama Hindu tidak mampu merebut kembali kepemimpinannya. Dan karena itu puladisitu dikatakan bahwa prajurit – prajurit itu dipimpin oleh janda Kradon.

Janda adalah wanita yang sudah ditinggal suaminya. Dengan kata lain yang dimaksud disini adalah pemimpin umat Hindu Buddha di daerah itu sudah kehilangan pelindungnya. Itu disebabkan karena Majapahit telah runtuh dan kesultanan Islam Demak Bintoro setelah berdiri.

Minaksopal sebagai seorang muballigh dan adipati islam, telah berhasil menuntaskan penyaran Islam di Trenggalek pada waktu itu, sehingga pada waktu itu sebagian penduduk di Kabupaten Trenggalek secara kwantitas menjadi penga-nut Agama Islam. Hal tersebut terbukti di seluruh wilayah Kabupaten Trenggalek sejak masa pemerintahan Adipati Minaksopal, tidak ada lagi kuil, pura, dan candi. Yang ada ialah tumbuh berkembangnya masjid, langgar dan kemudian pondok pesantren.

Kesimpulan dari cerita rakyat ini, Menak Sopal adalah tokoh penyebar Agama Islam di Trenggalek dan mampu memakmurkan rakyat disitu dengan cara membangun Bendungan Bagong. Karena itu tidak aneh bila sampai saat ini cerita Menak Sopal masih hidup di hati rakyat dan makamnya masih dikeramatkan oleh rakyat Trenggalek.

Advertiser