Selasa, 23 September 2014

Miris, TKW Indonesia Rajai Pelacuran di Arab Saudi

Cahgalek.com - Ketatnya peraturan di Arab Saudi terkait melakukan hubungan intim bukan muhrim dengan hukum rajam sampai mati tidak menyurutkan para wanita penghibur untuk bebas melakukan kegiatan haram. Mirisnya, yang mendominasi pelacuran di Saudi adalah TKW asal Indonesia.

Memang enak melacur di Saudi, Selain tarifnya lumayan mahal, peminatnya banyak. Karena itu, banyak TKW asal Indonesia menjadi pelacur. TKW asal Indonesia memang mendominasi pelacuran di Saudi. Saking terkenalnya, jangan kaget jika orang Pakistan, India, dan Bangladesh menyamaratakan semua TKI di sana sebagai pelacur.
"Bagi orang India dan Pakistan, orang Indonesia itu syarmuth (pelacur)," kata Nasir, warga Indonesia yang bekerja di Jeddah, seperti dikutip dari merdeka.com.

Namun penyebutan itu tidak berlaku bagi orang Arab Saudi. Mereka masih memandang orang Indonesia bukan pelacur.

Jeddah adalah kota terbesar buat pelacuran lantaran lebih bebas ketimbang kota-kota lain di Saudi. "Nomor satu Jeddah, nomor dua Makkah, nomor tiga Madinah," tambah Nasir.

Nasir, mengatakan, Para pelacur Indonesia sudah memiliki langganan. Biasanya, para pekerja kasar, seperti sopir taksi dari Pakistan, India, dan Bangladesh. "Dia itu punya nomor dari teman ke teman," ujarnya.

Menurut Ujang, pegawai perusahaan swasta dan sudah tinggal di Jeddah tujuh tahun, para TKW pelacur ini beredar lewat jaringan telepon. Biasanya pelacur akan dihubungi oleh TKI merangkap mucikari. "Mereka tidak mangkal, tapi dihubungi dan langsung datang ke apartemen," kata Ujang.

Nasir menjelaskan kebanyakan pelacur TKW asal Indonesia itu merupakan orang-orang kabur dari majikan. "Kebanyakan mendapatkan perlakuan seksual," tuturnya. Dia menceritakan istrinya sebelum dinikahi juga dua kali lari dari rumah majikan karena mau diperkosa.

Seperti yang dialami, M (27 tahun), TKW asal Indonesia, Ia menjadi pelacur demi menyambung hidup.

Saban hari kini penghasilannya seribu riyal. Pagi tidur dengan lelaki Bengali dan Sore seranjang bareng pria Pakistan. Pelacur yang beroperasi di Kota Jeddah, Arab Saudi, ini bisa melayani tiga pelanggan sehari.

Awalnya, M bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dia menjadi pelacur setelah diperkosa majikannya. Gajinya juga tidak dibayar. "Sekali main dibayar seribu riyal," kata M.

Sejak kabur dari rumah majikannya, M tinggal di penampungan TKI di Jeddah bersama puluhan rekan senasib. Sambil menunggu pekerjaan lagi sebagai pembantu rumah tangga, M menyambi sebagai pelacur untuk membiayai hidup.

Dia ditawari mucikari asal Indonesia untuk melayani nafsu lelaki Bengali. "Saya terpaksa melakukan ini untuk menyambung hidup," ujarnya. Teman-temannya di penampungan tidak ada yang tahu dia menggeluti profesi haram itu.

M kini telah menikah dengan lelaki asal Pakistan dan menetap di Jeddah. Dia sudah dua kali menikah selama bekerja di Arab Saudi.

Suami pertamanya adalah orang Bengali. Nafsu seksnya sangat kuat. M tidak mampu mengimbangi. Pernikahan mereka karam. "Nikah hanya sebulan," tutur M.

Kawin Kontrak

Selain bermodus sebagai tenaga kerja, pelacuran di Arab Saudi juga memiliki taktik sama seperti terjadi di daerah Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Kawin kontrak merupakan salah satu strategi baru prostitusi bagi para tenaga kerja Indonesia di negara itu. "Modusnya dengan kawin kontrak," kata Ujang, 30 tahun, pekerja asal Indonesia di Kota Jeddah, Saudi.

Ujang mengatakan banyak buruh migran perempuan asal Indonesia melakukan kawin kontrak di Saudi. Mereka menikah di bawah tangan dengan lelaki Pakistan atau Bengali. Imbalannya 10 ribu riyal sekali nikah.

Pernikahan itu hanya berlangsung sesuai kontrak antara sebulan sampai tiga bulan. "Nikahnya bawah tangan. Maharnya misalnya 10 ribu Riyal," ujarnya.

Selain dengan cara itu, ada juga modus lain kawin kontrak dengan cara digaji seribu riyal saban bulan. Sehabis kontrak, pernikahan itu selesai.

Nasir, mengiyakan pengakuan Ujang. Dia bilang biasanya TKW menjadi istri kawin kontrak dibayar seribu riyal per bulan.

"Memang ada biasanya berpisah karena dideportasi. Ya, karena surat-suratnya tidak lengkap," tuturnya.

Jadi jangan kaget para TKW pelacur itu pulang menggendong bayi atau menggandeng anak berparas Timur Tengah. Padahal saat berangkat mereka sendiri.

Sedangkan untuk pelacuran berkedok TKW asal Indonesia, Nasir mengatakan tarifnya beragam. Tarif ditentukan sesuai negosiasi dengan mucikari. Sekali main biasanya mulai 150 riyal hingga 250 riyal.

Namun pelacur TKW punya harga spesial untuk pelanggan asal Indonesia. Tarifnya jauh lebih murah ketimbang saat melayani lelaki Pakistan, India, atau Bangladesh. "Harganya 70 riyal. Ada juga yang gratis karena suka sama suka," kata Nasir.

Advertiser