Senin, 01 September 2014

Rumah Ibadah Yahudi Termegah di Indonesia

Cahgalek.com - Manado, Sulawesi Utara dikenal sebagai kota yang mayoritas penduduknya Kristen. Namun, Menorah yang menjadi simbol Yahudi, berdiri megah di atas sebuah bukit setinggi 20 meter dikota tersebut.

Dari atas Menorah bisa terlihat pemandangan ke seluruh kota Manado. Bendera-bendera Israel menghiasi Menorah. Di kota ini para penganut agama Yahudi hidup tenang.

Menorah baru saja direnovasi, termasuk simbol bintang Israel, Star of David, tergambar di langit-langitnya. Semuanya dibiayai oleh pemerintah daerah.

Seperti dikutip dari inilah.com, Menorah dibangun oleh Pemerintahan Minahasa Utara pada tahun 2009. Menurut Kepala Dinas Pariwisata setempat, Margarita Rumokoy, seperti dilaporkan New York Times, menorah itu menelan biaya hingga US$150 ribu atau sekitar Rp1,3 miliar.

Seorang pejabat setempat, Denny Wowiling, mengaku inspirasi menorah itu datang setelah ia melihat menorah di depan gedung parlemen Israel, Knesset. Ia berharap menorah itu bisa menarik turis dan pebisnis Eropa. "Juga untuk masyarakat Yahudi, agar bisa melihat simbol suci di luar negara mereka."

Manado dikenal sebagai kota yang mayoritas penduduknya Kristen. Kelompok-kelompok Kristen evangelical dan karismatik bermukim dengan nyamannya di ibukota Provinsi Sulawesi Utara ini. Namun, sentimen Yahudi yang diwariskan oleh penjajah Belanda, beberapa waktu belakangan ini kembali menguat. Dengan restu pemda, komunitas ini mulai menyiapkan tempat khusus untuk mereka. Sinagog atau rumah ibadah Yahudi yang dibangun enam tahun lalu.

Sinagog yang terletak di luar Manado, didirikan oleh penduduk setempat yang baru sedikit mempelajari Judaisme. Kini, jamaahnya sudah mencapai 10 orang dan menjadi salah satu sinagog yang bertahan sejak lama.

Mereka mempertebal ilmu dengan berinternet, seringkali bercanda dan mengatakannya, “Bertanya pada Rabbi Google.” Taurat, kitab Yahudi, dikumpulkan dengan cara mencetak lembar demi lembar dari internet. Situs YouTube juga sering menjadi rujukan untuk ritual-ritual Yahudi.

“Kami hanya ingin menjadi Yahudi yang baik. Tapi jika dibandingkan dengan Yahudi di Jerusalem atau Brooklyn (New York), kami belum seperti mereka,” tutur ujar Toar Palilingan (27), yang sering memakai jas hitam dan topi lebar, khas gaya ultra-ortodoks.

Advertiser