Rabu, 24 September 2014

SPG Mobil di Pameran IIMS Mengaku Lakukan Transaksi Seks Usai Pameran

Cahgalek.com - Pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2014 di JIEXPO, Kemayoran, Jakarta Pusat akan berlangsung hingga 28 September 2014. Di pameran ini, sales promotion girl (SPG) membuat pengakuan bahwa ada transaksi seks usai pameran. Mereka bisa dibooking pria hidung belang berkantong tebal.

(Foto Ilustrasi: Bukan narasumber dalam berita) Sales promotion girl (SPG) stan Honda berpose di sela-sela pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2014, di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat)

Seorang gadis muda membusungkan dadanya dengan kedua kaki dilipat  saat beberapa pengunjung Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) memfoto dirinya, Sabtu (20/9/2014).

Bersama tiga rekan sesama sales promotion girl (SPG), dia berpose di depan mobil mewah, Sebut saja namanya Nia. Ia tak sungkan menunjukkan kemolekan tubuhnya sembari terus mengumbar senyum. Dengan balutan dress putih ketat di atas lutut dan tanpa lengan, lekuk tubuh Nia kelihatan jelas.

Mahasiswa perguruan tinggi swasta di Jakarta ini mengaku menjadi SPG hanya sebagai batu loncatan saja. “Kalau beruntung jadi model atau artis kalau tidak ya gitu deh,” kata Nia, seperti dikutip dari tribunnews.com.

Ia mengatakan dalam pameran otomotif terbesar di Indonesia ini banyak agency model yang berburu wanita cantik dengan mengamati para SPG untuk menjadi model mereka.

Selain banyak agency model, banyak pula pria berduit yang memanfaatkannya untuk mengajak para SPG berkencan dan menikmati tubuh SPG sampai puas.

“Gue gak munafik, kalau orangnya keren dan gue suka serta bayarannya gede, kenapa enggak, gue ambil, dan gue kasih pin BB gue” katanya.

Selama 11 hari pameran IIMS itu, Nia mengaku dibayar Rp 10 juta atau Rp 1 Juta per shift (6 jam) dalam sehari. Bayarannya itu diluar uang makan dan transportasi yang ditanggung produsen mobil yang mengontrak Nia, juga  rekan-rekannya.

“Sebelas hari berdiri di pameran dibayar Rp 10 Juta, sementara nemenin cukong seharian dan ‘begituan’, dibayar Rp 10 juta. Enakan mana coba? Makanya gue bilang gue gak munafik, apalagi kalau orangnya keren, hehehe,” kata Nia tertawa kecil.

Nia mengaku tak sembarangan pria yang dapat mengajaknya tidur atau berkencan. “Gue milih-milih juga. Kalau bayaran standar dan orangnya gue gak suka, gue tolak,” ujarnya.

Menurut Nia, beberapa rekannya melakoni hal yang sama dengannya. “Tapi gue gak mau dibilang PSK. Gue milih orang dan liat orang, sama bayarannya juga tentunya,” kata dia.

Ia mengatakan biasanya transaksi seks akan dilakoninya usai IIMS berakhir. “Kenalnya memang di IIMS, tapi jalannya setelah IIMS kelar dong,” katanya.

Alasan dia, selama kontrak menjadi SPG di IIMS, mereka tak boleh absen selama 11 hari itu. “Kalau bolong sehari, potongannya lumayan gede, sampai Rp 2 juta,” kata dia.

Nia sudah menjadi SPG di IIMS untuk yang kedua kalinya. “Tahun lalu juga jadi SPG di sini. Beberapa temen direkrut jadi model, tapi gue belum. Teman lain ada yang jadi simpanan pejabat juga,” ungkapnya.

Justeru Kami yang Digoda

Icha (nama samaran) seorang SPG yang bertugas di Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) tak menampik adanya transaksi seks melibatkan rekan-rekan seprofesinya. Namun tidak semua SPG terlibat prostitusi terselubung itu.

”Iya banyak teman saya begitu. Tapi kalau saya tidak lah,” kata Icha di sela kesibukannya di salah satu stand IIMS, Sabtu (20/9/2014) siang.

Menurut Icha, banyak juga rekannya sesama SPG yang usai IIMS berakhir tahun lalu akhirnya berkecimpung di dunia model.

“Kalau SPG kan tergantung even. Kalau direkrut jadi model, maka evennya makin sering dan bayarannya makin gede,” ujarnya.

Sementara Reina (juga nama samaran), SPG lainnya menuturkan prostitusi terselubung berkedok SPG tersebut, terjadi karena para pria hidung belang terus menggodanya.

“Justru, kami yang digoda-goda. Kalau tak kuat iman, bisa jadi,” kata Reina tanpa sungkan membuka cerita tentang prostitusi terselubung tersebut.

Sheila (21), SPG lain di IIMS mengakui bahwa banyak sekali godaaan dari para pengunjung. “Tapi tolong berpikiran positif. Tidak semua SPG jual diri. Saya akui ada yang jual diri. Ini tergantung dari masing-masing SPG. Saya hanya jual senyum tetapi tidak jual diri,” ungkapnya di stand mobil Suzuki Karimun Wagon di IIMS, Sabtu.

Selama tiga hari di pameran tersebut, sudah puluhan pria yang menggoda dan merayu, tetapi tidak ditanggapinya.

“Saya alihkan pembicaraan jika sudah melenceng. Saya dituntut untuk tetap berlaku ramah dan murah senyum. Saya dan sebagian kawan-kawan tidak jual diri,” kisah Sheila.

Sheila mengaku tanggungjawabnya cukup sepadan dengan fee yang didapatkannya. “Sekali shift bisa dapat Rp 1 Juta,” ujarnya.

Marisa (23), SPG lain di stand KIA, mengatakan profesi sebagai SPG sebenarnya mengandalkan otak selain kecantikan. “Sebab harus tahu dan hafal produk,” katanya.

Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Kristen Krida Kencana (Ukrida) itu mengatakan pengetahuan tentang produk memang menjadi tugasnya selama pameran berlangsung. “Jadi tak sekadar memamerkan kemolekan tubuh untuk menarik perhatian pengunjung, tapi juga otak,” ujarnya.

Mengenakan baju merah putih dengan rok setengah paha dipadu dengan high heels merah, ia juga terlihat ramah ‘melayani’ pengunjung yang memotret dirinya. Tanpa aba-aba, wanita dengan tinggi badan sekitar 170 cm itu berkacak pinggang dan mengarahkan pandangan kepada siapapun yang memotretnya.

Aktivitas itu ia lakoni selama lima hingga enam jam sehari. Marisa mengaku wajib berdiri selama jam kerja berlangsung. Meski begitu, ia puas karena lelahnya terbayar dengan penghasilan yang cukup memuaskan.

“Saya kan gak boleh duduk selama tugas. Harus selalu senyum juga. Capek yah capek, tapi mikirin duitnya itu lho,” katanya.

Ia menjelaskan, untuk satu shift, jam 10.00-16.00 WIB, ia diberi fee senilai Rp 800 ribu, termasuk istirahat satu jam.

“Tapi kalau long shift atau masuk dari pagi (jam 10) sampai malam (jam 10), dua kali lipat. Hari ini saya long shift,” ujarnya sembari menyebut bahwa gajinya baru akan terbayar dua pekan setelah pameran.

Selain lelah berdiri, ia juga mesti menghadapi aksi iseng pria-pria yang ingin meminta nomor teleponnya.

“Modusnya itu pura-pura foto dan meminta nomor telepon. Tapi saya gak ngasih. Ngasih email kantor Kia aja,” tambahnya.

Advertiser