Kamis, 30 Oktober 2014

Dolly Tutup, Pemesanan PSK Dilayani Lewat E-Dolly

Cahgalek.com - Meskipun Pasar birahi Dolly dan Jarak telah resmi ditutup Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan aparatnya, pada 18 Juni 2014. Ratusan wisma secara bertahap menghentikan operasi. Akan tetapi, aktivitas bisnis prostitusi tetap saja tersisa. Para penyedia PSK tetap mangkal di sana menggunakan perangkat elektronik dan teknologi informasi untuk menjual jasa PSK. Inilah generasi "E-Dolly".

"'Dagangan' (PSK) mereka masih banyak. Cuma, sekarang mereka tidak berani ke Dolly. Mereka biasanya menawarkan dengan menunjukkan foto-foto menggunakan tablet dan smartphone," tutur pelanggan Dolly yang tidak mau namanya disebutkan, seperti dikutip dari suryaonline.

Gerakan mereka sama dengan para pemain lain dalam bisnis prostitusi elektronik. Sistem "E-Dolly", menurut para makelar, lebih cepat dan aman. Konsumen datang, pesan, lalu sepakat harga. PSK lalu akan diantar, dan bebas dibawa ke hotel.

Selain "E-Dolly", ditemukan juga puluhan akun yang menawarkan layanan seks melalui dunia maya. Ada yang lewat Facebook, tetapi lebih banyak melalui Twitter. Umumnya, tiap akun berisi grup yang beranggotakan para PSK.

Dari puluhan akun, belasan akun di antaranya "menjual" PSK dengan embel-embel sebagai grup perempuan Surabaya.

"Bersenjatakan" smartphone dan internet, para lelaki hidung belang masih bisa menikmati layanan cinta sesaat khas Dolly-Jarak. Selain lewat Facebook, sistem pemasaran "E-Dolly" juga memanfaatkan BlackBerry Messenger (BBM).

Cara ini dilakukan untuk menjaga tamu agar tahu bahwa mereka masih bisa melayani, meski wisma tutup. Mereka juga menyediakan layanan "drive thru" alias bisa langsung datang ke Gang Dolly.

Lalu di mana PSK-nya? Mirip layanan drive thru, konsumen "E-Dolly" tidak perlu mengambil sendiri pesanannya. Ada petugas atau pelayan yang mengantar ke tempat yang dituju. "Sistem transaksinya booking-out, Mas," kata makelar.

Pesan dilakukan di Dolly atau menelepon para makelar Dolly, tetapi aktivitas pelayanan harus dilakukan di luar Dolly. Para PSK itu tidak diperkenankan melayani tamu di luar pesanan makelar.

Satu hal lagi yang diterapkan dalam tata cara menggunakan jasa PSK E-Dolly, yakni para konsumem tidak bisa serta-merta memilih hotel sendiri. Hanya pelanggan tetap yang boleh menentukan hotel pilihan. "Hotelnya sih terserah Sampean. Cuma tergantung ceweknya. Biasanya dia punya hotel rekomendasi sendiri," ungkapnya.

Mereka para PSK e-dolly lebih suka melayani di hotel-hotel rujukan. Mereka yakinkan klien, semua hotel rujukan itu aman dari razia. Di balik alasan klasik itu, ada satu alasan yang mereka tutup rapat. Alasan itu adalah lebih berani nakal!

Sejumlah penjaja seks E-Dolly enggan dibooking ke hotel atau penginapan pilihan klien. Alasannya, kenyamanan tidak terjamin. Razia rutin  menjadi menjadi momok utama.

Begitu pula dengan keamanan. Mereka mengaku seringkali menjadi korban klien berperilaku kasar, tanpa bisa meminta tolong karena tidak mengenal seorangpun di hotel itu.

Hotel rujukan itu  berada di kawasan Pandegiling. Hotel kelas melati itu letaknya tidak jauh dari Hotel Santika, hotel berbintang yang menjadi ikon  kawasan itu.

Hotel kelas melati sebenarnya sudah dilarang beroperasi. Tanda segel dari pemerintah kota masih terlihat jelas. Segel kertas bergambar garis silang warna merah itu tertempel di kaca depan hotel.

Tapi rupanya pengelola hotel tetap buka. Pengelola memberlakukan tarif short time Rp 55.000.

Pengakuan Mantan PSK E-Dolly

Perempuan e-Dolly yang itu bernama Vivi. Usianya kini 27 tahun. Perempuan asal Banyuwangi ini dulu menghuni Wisma Nusa 2.

Vivi mau bercerita banyak seputar pengalamannya menjajakan diri pasca penutupan Dolly.

Ia berkisah, sebelum Dolly ditutup, ia sempat pulang ke Banyuwangi. Begitu Dolly sunyi, ia segera balik ke Surabaya.

Sejumlah teman dan makelar yang dikenal membantunya. Berkat mereka pula Vivi melanjutkan operasi. Bersama mereka pula, ia membentuk group yang menjual layanan cinta melalui internet.

Ada puluhan bekas PSK yang kembali beroperasi diam-diam bersamanya. Operasi itu hingga kini masih aman-aman saja. Belum sekalipun terjamah petugas.

Tempat tinggal Vivi, terbilang aman. Rumah itu hanyalah kos-kosan dan murni untuk tempat tinggal. Semua layanan dilakukan di luar. Umumnya di hotel yang dianggap aman.

Para PSK baru akan berangkat ke hotel setelah transaksi beres. Vivi biasanya memilihkan hotel untuk pelanggannya. Ia mengaku sudah punya hotel langganan, sehingga aman.

Sebenarnya, ia tidak keberatan dibooking ke hotel pelanggan. Tapi, itu hanya dilakukan untuk pelanggan yang sudah benar-benar dikenal. Ia ogah datang ke hotel pelanggan yang baru dikenal.

"Saya sudah kapok. Saya tidak mau lagi, Mending mencari (hotel) bareng-bareng,” ucapnya.

Vivi mengaku kapok karena, pernah mengalami peristiwa buruk. Ia datang ke hotel tamu di kawasan Surabaya Timur. Disitu ia disiksa. Pemesan ternyata dua orang dan berlaku kasar. Vivi menduga, pemakai jasanya, orang Kalimantan, menderita kelainan seksual.

Vivi harus dievakuasi satpam hotel, sebelum dijemput pengantarnya. Akibat perlakukan itu,  ia opname selama tiga hari di rumah sakit. "Makanya kalau ada tamu yang sudah punya hotel, saya ngeri. Sudah kapok!” tegasnya.

Vivi mengaku tidak berkutik disiksa. Sebab, ia sama sekali tidak kenal lingkungan hotel pelanggan. Termasuk tidak kenal sama sekali terhadap pelayan hotel. Ini berbeda dengan hotel-hotel yang sudah menjadi langganannya.

Advertiser