Rabu, 29 Oktober 2014

Kisah Muhammad Arsad, Ditangkap Karena Bully Jokowi "Ngeseks" dengan Mega

Cahgalek.com - Muhammad Arsad alias Inez  atau MA, berusia 23 tahun, warga Ciracas, Jakarta Timur harus merasakan dinginnya penjara Bareskrim Mabes Polri karena dituding mem-bully Presiden Joko Widodo (Jokowi) di akun Facebook miliknya.

Kuasa hukum MA, Irfan Fahmi, mengatakan, MA ditangkap di rumahnya pada Kamis 23 Oktober 2014 oleh empat penyidik Mabes Polri berpakaian sipil. Dia dilangsung dibawa ke Mabes Polri, dan dalam waktu 1×24 jam langsung dilakukan penahanan.

“Dia dilaporkan tanggal 27 Juli 2014 berdasarkan dokumen yang saya lihat. Kemudian prosesnya bergulir terus dari penyelidikan, penyidikan hingga sekarang,” ujar Irfan kepada Okezone, Selasa 28 Oktober 2014.

Irfan mengaku tidak tahu siapa yang melaporkan MA atas tuduhan pencemaran nama baik tersebut. Namun, dalam dokumen kepolisian, MA ditetapkan dengan pasal berlapis yaitu Pasal 310 dan 311 KUHP, Pasal 156 dan 157 KUHP, Pasal 27, 45, 32, 35, 36, 51 UU ITE.

“Sampai sekarang MA masih ditahan,” tukasnya.

Saling membully

Irfan menjelaskan, MA memposting sesuatu yang dianggap menghina Jokowi saat masa kampanye Pilpres Juli 2014. Dia biasa mengakses internet melalui warung internet yang tak jauh dari rumahnya.

“Saat musim Pilpres itu dia dimasukan ke dalam grup yang isinya saling membully antara capres A dengan capres B. Dia memposting baik berupa teks maupun gambar yang sudah beredar di media sosial,” tuturnya.

Karena tergabung dalam grup yang saling membully tersebut, lanjut Irfan, maka MA juga melakukan hal yang sama. “Karena terjebak dalam situasi seperti itu, maka dia ikut-ikutan membully dan posting saling serang,” tuturnya.

Tak ayal lagi, ibunda dari MA, syok berat saat mengetahui anaknya ditangkap penyidik Mabes Polri. Hampir setiap hari M menangis karena tak menyangka anaknya harus berurusan dengan polisi.

Penangkapan yang dilakukan tim Cyber Crime Mabes Polri itu sangat membingungkan pihak keluarga. Irfan Fahmi, mengaku saat penangkapan keluarga sedang tidak berada di rumah. Hanya, ada ibunya M yang kebingungan mengapa anakanya bisa ditangkap.

“Saat penangkapan, hanya ada ibunya dan dia pun tak tahu mengapa anaknya tiba-tiba ditangkap. Sedangkan, keluarga lainnya tidak ada di rumah dan tak tahu jika MA langsung dibawa ke Bareskrim Mabes Polri,” jelas Irfan.

Dia menambahkan, saat menangkap MA pihak Kepolisian memang sempat menunjukkan surat penangkapan kepada M. Namun, M yang buta huruf tak mengerti isi surat tersebut dan tak menyangka anak sulungnya bisa berurusan dengan polisi.

“Saat itu ibunya tidak tahu isi surat penangkapan karena buta huruf. Ibunya hanya bisa kebingungan karena enggak bisa baca,” tegas Irfan.

Sementara, M ingin bertemu Presiden Jokowi dan meminta maaf langsung atas perbuatan sang anak yang diduga telah mencemarkan nama baiknya. Sebab, MA adalah tulang punggung keluarga dan tak pernah berurusan dengan hukum.

“Ibu tersangka ingin sekali meminta maaf kepada Pak Jokowi atas kesalahan anaknya. Kami pun berencana membuat surat izin agar jika memungkinkan bertemu dengan Pak Jokowi,” terang Irfan, “Sebisa mungkin ibunya ingin bersimpuh di hadapan orang-orang yang dirugikan anaknya, mau minta maaf.”

Ibunda berharap anaknya tidak dipenjara meskipun dianggap telah melakukan tindakan kejahatan yakni pencemaran nama baik. M berharap Jokowi memaafkan dan kasus tersebut dapat diselesaikan dengan jalur kekeluargaan.

“Andaikata itu kejahatan, penyembuhannya bukan di penjara, apalagi Jokowi mengusung ide gagasan revolusi mental. Revolusi mental apa yang kira-kira bisa dilakukan oleh tersangka,” kata Irfan menirukan ucapan sang ibunda.

MA sendiri tak menyangka tulisan di akun Facebook miliknya berujung bencana. Menurut Irfan Fahmi, MA amat menyesali perbuatannya. Pemuda lulusan SMP itu memohon maaf kepada Presiden Jokowi.

“Tersangka merasa menyesal dan ingin memohon maaf kepada yang dirugikan oleh perbuatannya,” kata Irfan.

Menurut Irfan, MA kesehariannya adalah pemuda yang polos. Ia pun tak menyadari tulisannya akan berujung proses hukum. Buruh tusuk sate itu juga menuliskan cemoohan kepada Jokowi melalui akun Facebook resmi miliknya, bukan anonim.

“Dia sangat polos. Karena akun facebook untuk posting yang dianggap meresahkan itu bukan akun FB anonim. Nama akunnya nama dia, fotonya pun asli punya dia. Dia pun tidak sembunyi. Kalau menurut dia, apa yang dia lakukan bukan sebagai kejahatan,” jelas Irfan.

MA sehari-hari bekerja sebagai tukang tusuk sate dan selama ini aktif di salah satu majelis takim yang ada di Jakarta. “Ibunya buruh lepas di Pasar Kramat Jati,” ujar Irfan.

Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar mengatakan, yang bersangkutan ditangkap terkait pelanggaran UU ITE dan UU Pornografi. "Iya benar ada, yang melaporkan pengacara atau politisi PDI Perjuangan Hendri Yoso," katanya di Jakarta, Rabu (29/10/2014).

Namun, Boy tidak menjelaskan lebih detail tentang kronologi peristiwa tersebut termasuk profesi dari pelaku MA itu. Sebab, nanti akan disampaikan lebih jelas perkembangannya.

Sementara itu. disebut sebagai raja tega lantaran memenjarakan MA dalam kasus bullying terhadap Joko Widodo, politikus PDIP Henry Yosodiningrat merasa geram. Henry Yoso dinilai keterlaluan karena melaporkan tukang tusuk sate itu karena menghina presiden Joko Widodo.

“Kalian jangan lihat tukang satenya, tapi perbuatan dia yang telah merendahkan Jokowi,” kata Henry Yoso dikutip Okezone, Rabu (29/10/2014).

Henry mengungkapkan, dirinya tidak pernah mengenal Muhammad Arsad, warga Ciracas yang menghina Jokowi di Facebook. “Saya tidak tahu dia siapa, tinggal di mana. Saya melaporkan dia sebagai koordinator tim hukum Jokowi-JK,” kata Henry.

Menurut Henry, dia melaporkan kasus itu karena Muhammad Arsad telah merekayasa foto seronok Jokowi dengan Megawati. “Dan ditambahkan kalimat-kalimat yang merendahkan martabat Jokowi,” ungkapnya.

Muhammad Arsad  telah ditangkap empat petugas Bareskrim berpakaian sipil pada Kamis 23 Oktober. Pria yang bekerja sebagai buruh pembuat tusuk sate itu ditahan setelah menjalani pemeriksaan 1×24 jam.

Sementara itu, Politisi PDIP Eva K Sundari berbicara soal kasus penangkapan MA, tukang tusuk sate yang dijerat Polri dengan UU ITE dan Pornografi. MA dinilai sudah keterlaluan memasang sejumlah gambar porno yaitu pasangan yang sedang main seks.

"Itu gambarnya diganti sama gambar Pak Jokowi sama Bu Mega, jadi bukan soal bully Pak Jokowi. Ini sudah keterlaluan, orang main seks dan alat vitalnya kelihatan. Itu orang sedang gaya doggy style," jelas Eva, Rabu (29/10/2014).

Menurut Eva, pada Juli 2014 lalu dia mendapat laporan dari seorang suporter kampanye Jokowi-JK, ada seseorang yang memasang foto porno dengan gambar wajah Jokowi dan Mega. Eva kemudian melapor ke Sekjen PDIP saat itu Tjahjo Kumolo. Kemudian Tjahjo berkoordinasi dengan Tim Hukum Henry Yosodiningrat.

"Kalau soal bully Pak Jokowi biasa, sudah kebal. Lihat saja kasus Obor Rakyat Pak Jokowi biasa saja. Tapi gambar yang dipasang di Facebook itu sudah keterlaluan, masang gambar orang main seks," terang Eva.

Tim hukum kemudian melapor ke Polri soal gambar itu. Mungkin setelah diteliti MA baru ditangkap.

"Kita juga nggak tahu dia tukang sate atau siapa. Tapi ya jangan bikin gambar seperti itulah. Itu kan tidak pantas," urai Eva.

MA kini ditahan di Mabes Polri dengan pidana UU ITE dan Pornografi. "Ini Pak Jokowi bukan yang lapor ya, Pak Jokowi tidak memerintahkan melapor. Ini kuasa hukum karena itu gambar sudah keterlaluan," tutup Eva.

Akui unggah gambar meme

Kuasa hukum Arsad, Irfan Fahmi mengakui, salah satu meme yang diunggahnya berupa gambar orang telanjang. Dalam gambar itu, bagian kepala diganti wajah Jokowi yang sedang berlomba-lomba memenangi Pilpres. Ada lebih dari tiga gambar yang diunggah Arsad dalam akun Facebooknya.

“Meme itu bentuknya ada gambar orang polisi lagi narik orang, kemudian wajah diganti wajah capres. Ada orang lagi tanpa busana, gambar diganti wajah capres,” ungkap Irfan saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (29/10).

Meski begitu, Irfan menyebut meme tersebut bukan buatan Arsad. Dia hanya ikut menyebarkan meme yang banyak beredar di internet itu lewat Facebook. “Dia hanya temukan gambar itu berserakan di dunia maya kemudian diambil tanpa kesadaran tahu resikonya. Suatu hal yang lumrah,” tandasnya.

Sebelumnya, Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar menyebutkan, tersangka tidak hanya dijerat dengan UU ITE, tetapi UU Pornografi.

Advertiser