Kamis, 30 Oktober 2014

Menguak Transaksi Seks Ayam Kampus Online

Cahgalek.com - Setelah menguak transaksi esek-esek mantan penguni pasar birahi Dolly dan Jarak. [Baca: Dolly Tutup, Pemesanan PSK Dilayani Lewat E-Dolly] Kali ini cahgalek.com akan menguak transaksi seks Ayam Kampus seperti dikutip dari suryaonline.

Tidak terlalu sulit menemukan ayam-ayam kampus yang bertansaksi seks di jagat online. Anda yang menjadi pengguna media sosial Twitter, cobalah sesekali masukkan kata kunci yang identik dengan prostitusi ke kotak pencarian.

Dalam sekejap akan bermunculan puluhan akun berlatar gambar atau foto perempuan syur. Mulai dari yang berbusana lengkap, setengah badan, hingga gambar perempuan yang kehilangan pakaian sama sekali.

Tak cuma di Twitter, kondisi serupa dengan mudah dicari di laman Facebook, serta aplikasi perpesanan instan seperti BBM (BlackBerry Messenger), WhatsApp, LINE, WEChat, dan lainnya.

Ada ratusan akun yang ditemukan. Paling banyak di Twitter dan Facebook. Dari ratusan itu, ada belasan akun, yang menawarkan perempuan berlabel Surabaya. Akun-akun itu umumnya akun group.

Surya berhasil berkomunikasi dan bertemu mereka setelah berburu berhari-hari. Dari merekalah terungkap, ada ratusan ayam yang masih berstatus mahasiswa. “Mereka tak hanya berasal dari Surabaya. Ada juga yang dari Jakarta,” ungkap Nadia, mahasiswi yang ikut menawarkan layanan birahi melalui online.

Nama Nadia tentu saja hanyalah nama dalam akun dunia maya. Nama asli mahasiswa berusia 19 tahun ini tidak pernah dibuka pada pelanggan.

Di akunnya Nadia memamerkan foto-foto polos bagian atas tubuhnya. Tak cuma itu, Nadia (19) dia juga memposting beberapa bukti pembayaran dari klien. Baginya, bukti pembayaran ini penting untuk meyakinkan, dia serius bisa memberikan pelayanan.

Dari media sosial itu,  bocah asal Bojonegoro ini memberikan nomor pin BB. Remaja yang baru menapaki bangku kuliah ini menawarkan diri seharga Rp 800.000 untuk sekali kencan. Tarif itu belum termasuk biaya kamar hotel.

Ia menerapkan sistem DP (down payment/uang muka) bagi setiap calon klien. DP harus ditransfer sebelum komunikasi lebih lanjut dilakukan. “DP ini tanda dia serius. Kalau tidak kirim DP, ya komunikasi tidak perlu dilanjutkan. Itu pasti cuma orang menggoda,” katanya.

Nadia tidak sendirian. Dia punya grup sesama mahasiswa. Bersama grupnya, Nadia biasa memberlakukan DP Rp 300.000.

DP harus dibayar paling lambat satu jam setelah komunikasi terjadi. “Lewat satu jam, pasti kami biarkan. Tidak perlu dibalas lagi (komunikasinya),”  katanya.

Selain memberikan pin BBM, Nadia juga memberikan nomor ponsel. Namun, dia hanya menerima komunikasi SMS.

Saat beberapa kali ditelpon nomor itu, yang terdengar hanya nada sibuk. Pemilik nomor langsung menolak panggilan yang masuk. Baru setelah DP ditranfer, komunikasi bisa lebih terbuka. Melalui SMS, dia merekomendasikan sejumlah hotel yang dianggapnya aman dan layak.

Keesokan harinya, Nadia benar-benar muncul dan menepati janjinya untuk bertemu Surya. Kepada Surya Nadia mengaku, grupnya dalam akunnya punya banyak anggota. Tapi, Nadia tidak mengenal satu persatu.

Hanya beberapa  teman sesama mahasiswa yang kerap bertemu yang dikenalnya. “Hanya beberapa saja yang saya kenal akrab dan kami sering jalan bareng. Biasanya ke Sutos,” ucapnya.

Anggota tidak hanya dari Surabaya. Ada juga   dari Jakarta. Tapi, mereka sering kumpul-kumpul di Surabaya. Kadang hanya sekadar untuk bersantai.

Setiap pemilik akun di grup itu, akan mendapat sebuah logo berupa watermark yang bisa digabungkan dengan foto-foto pribadi. Foto-foto pribadi inilah yang kemudian dipasang di akun Twitter untuk berpromosi.

Tidak ada istilah mami, germo, atau mucikari di klub ini. Demikian halnya tak semua anggota yang ada di dalamnya adalah perempuan-perempuan yang bisa dibooking.

Beberapa malah hanyalah orang-orang yang doyan berfoto panas, lalu menyebarkannya melalui akun Twitter. Bagi perempuan-perempuan di dalamnya yang bisa di-booking, adalah PSK-PSK yang independen. Artinya, mereka tak memiliki kewajiban menyetor sebagian uang yang diperoleh dari klien kepada siapapun. “Grup itu cuma untuk menandai mana yang akun asli dan mana yang bukan,” jelasnya.

Selama kurang lebih setahun terjun ke dunia prostitusi online, Nadia hanya memanfaatkan akun Twitter untuk berpromosi. Namun, dia menganggap intensitasnya dalam berpromosi tidak berlebihan. Itu hanya dia lakukan ketika sedang membutuhkan uang, baik untuk membiayai kuliah maupun untuk adik perempuan yang masih pelajar sekolah menengah.

Mahasiswi lain yang berhasil ditemukan menggunakan akun nama Cece. Sama dengan Nadia, mahasiswa yang merangkap sebagai sales promotion girl ini juga memiliki group.

Laman group inilah yang aktif memposting foto-foto mereka untuk hidung belang. Cara pemasaran lainnya, kata Cece, ia dan groupnya kerap masuk di forum online yang berbau esek-esek, misalnya krucil.net dan semprot.com.

Situs-situs ini sebenarnya sudah diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo). Namun, pengelola menawarkan sejumlah cara untuk mengaksesnya.

Pengunjung bebas mendaftar, seperti layaknya membuat akun email. Namun, sebagai anggota baru, jangan berharap akan mendapatkan informasi lebih tentang dunia hitam ini.

Seorang anggota baru alias newbie hanya bisa melihat gambar, film, atau informasi sesama newbie. Pengelola forum akan memantau aktivitas anggota baru itu. Jika hanya menjadi pembaca,  maka selamanya status newbie akan melekat.

Seseorang harus aktif posting, jika ingin menjadi anggota ”khusus”.
Posting yang bisa mempercepat kenaikan status anggota baru adalah pengalaman seks, terutama di panti pijat plus atau para PSK kelas atas.

Apalagi jika disertai dengan pembagian kontak PSK itu, baik PIN, nomor telepon, maupun akun Facebook. Soal tarif, Cece dan teman-temannya mematok di atas Rp 1 juta.  Itu belum termasuk biaya hotel.

“Tapi, ada even-even khusus, yang kami berlakukan tarif khusus untuk memanjakan klien,”  kata Cece. Cece yang berkulit kuning langsat menjadi primadona di groupnya.

Advertiser