Kamis, 09 Oktober 2014

Pernikahan Manusia Dengan Peri Bikin Geger Ngawi

Cahgalek.com - Pernikahan normal antara lelaki dan perempuan itu biasa terjadi dan kita sering melihatnya. Namun, di Ngawi, Jawa Timur ada pernikahan yang tak lazim terjadi yaitu pernikahan seorang lelaki dengan peri.

Undangan Pernikahan Bagus Kodok yang Menikah dengan Peri

Dilansir kompas.com, Mempelai pria, yang mengaku bernama Bagus Kodok Ibnu Sukodok (63), meresmikan hubungannya dengan pasangan yang disebut sebagai peri, yakni Peri Roro Setyowati, pada Rabu (8/10/2014).

Pernikahan antara Bagus Kodok Ibnu Sukodok dan Peri Roro Setyowati yang disebut berasal dari hutan Ketonggo digelar di rumah tua milik seniman Bramantyo Prijosusilo di Desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren, Ngawi, Jawa Timur.

Meski terbilang tidak biasa karena mempelai perempuan tidak terlihat, prosesi pernikahan digelar seperti layaknya pernikahan manusia dengan manusia. Berbagai urutan prosesi pernikahan adat Jawa digelar seperti pernikahan sewajarnya.

Bagus menceritakan, sekitar lima tahun lalu, dirinya datang ke hutan Ketangga di daerah Paron, Ngawi, Jawa Timur. Sesampainya di lokasi, ia merasa ingin buang air besar. Kebetulan, ia melihat sungai dan memutuskan buang air besar di sana.

"Saya memang sudah tidak tahan, ya di sungai itu saya buang air besar," ujar Bagus Kodok saat ditemui di lokasi pernikahan.

Beberapa hari kemudian, Eko kembali mimpi bertemu dengan seorang perempuan yang mengenakan pakaian adat Jawa dan berparas biasa. "Cantik tidak, jelek juga tidak. Ya, normal-lah. Namanya Roro Setyowati," ucapnya.

Selama ia mengenal peri itu, pria yang akrab disapa Eko ini mengaku tak pernah melihat Roro Setyowati menampakkan diri. Sang peri, menurut dia, hanya membisiki dan menyenggol dirinya. "Awalnya takut, bau wangi, mendengar suara, tetapi lama-lama biasa," kata Eko.

Bagus Kodok, Pria yang Menikahi Peri

Menurut dia, selama ini bisikan-bisikan Roro Setyowati berisi hal-hal yang positif. Apa yang dikatakan selalu memacu dirinya untuk lebih baik. Terutama sebagai seniman, Eko dinasihati untuk terus menghasilkan karya.

Eko mengaku pernah ditemui seorang temannya yang berprofesi sebagai paranormal. Dia menawarkan akan mengupayakan agar dirinya bisa melihat Roro Setyowati.

Saat itu, Eko diberikan mantra dan dipijat untuk membuka indra keenamnya. Namun, setelah beberapa kali mencoba dan selalu gagal, Eko pun memutuskan untuk menghentikan ritualnya. "Diberi mantra, terus dipijit untuk membuka indra ke-6. Namun, setelah baca mantra berulang kali, suatu saat tubuh saya gemetar sangat kencang. Karena takut, saya putuskan tidak lanjutkan," ucapnya.

Eko mengungkapkan, sampai saat ini dirinya tidak pernah melihat wujud Roro Setyowati. Ia hanya bisa berdialog dan merasakan kehadiran makhluk halus itu. "Saya kalau bicara sama dia seperti orang gila paling, ya. Akan tetapi, memang ada," katanya.

Sejak pertama bertemu dalam mimpi hingga saat ini, Bagus mengaku belum pernah melihat wujud Peri Roro Setyowati. Walau demikian, ia tetap ingin menikahinya.

Pernikahan unik antara Bagus Kodok Ibnu Sukodok dengan "perempuan" mahluk halus, Peri Roro Setyowati saksikan seniman, warga dan pejabat desa setempat.

"Acara perkawinan ini tidak akan menggunakan lampu listrik, tetapi oncor dan lampu sentir," ujar Bramantyo seniman yang mengkreasi pernikahan Bagus Kodok dengan Peri Roro Setyowati.

Bramantyo mengatakan, perkawinan ini bukan mengada-ada atau asal-asalan. Pernikahan ini merupakan sebuah peristiwa sakral, buah dari kisah cinta yang dimulai beberapa tahun yang lalu. "Sekitar 5 tahun lalu Eko Kodok kenal dengan Peri Roro Setyowati. Setelah sekian lama akhirnya diputuskan untuk menikah," tegasnya.

Meski berbeda alam, kata Bramantyo, keduanya memiliki perhatian dan keprihatinan serta kecintaan yang sama pada alam raya dan budaya manusia, khususnya pada lingkungan tanah Jawa.

Dia menjelaskan, ketika Roro Setyowati minta dipersunting dengan cara alam manusia, maka akan sangat mustahil jika perhelatan aneh itu dilakukan di lembaga formal. Sebab, salah satu mempelainya berasal dari alam gaib. Karena itu, lanjut Bramantyo, dirinya memberikan konsep kepada Eko Kodok untuk mengelar pernikahan dengan kemasan seni kejadian atau juga dikenal sebagai happening art.

"Jadi seniman menghadirkan suatu kejadian. Kali ini kejadian yang saya hadirkan adalah sebuah perkawinan Adat Jawa antara Eko Kodok dengan Roro Setyowati. Dihadirkan dalam suatu upacara pernikahan," ucapnya.

Prosesi Pernikahan Manusia dengan Peri

Acara pernikahan diawali pada Selasa (7/10/2014) malam dengan prosesi midodareni. Pada hari Rabu (8/10/2014) prosesi pernikahan akan dibuka dengan siraman pada pukul 16.00, lalu dilanjutkan dengan prosesi dodol dawet (menjual dawet), atur pasrah temanten kakung dan temanten putri, lalu diakhiri dengan bedhol manten.

Pernikahan ini dihadiri para seniman, keluarga, tetangga dan pejabat pemerintah desa pun hadir dalam prosesi pernikahan. Bahkan, kata Bramantyo, para danyang tanah Jawa antara lain Ratu Kidul dan Sabdo Palon pun turut menyaksikan pernikahan ini.

Ribuan Warga Ngawi Menyaksikan Pernikahan Manusia dengan Peri

Pernikahan manusia dengan peri juga mendapat penjagaan dari pihak berwajib, sebanyak 160 personel gabungan, baik dari kepolisian maupun TNI, diturunkan untuk mengamankan jalannya pernikahan ini. Pernikahan unik ini dijaga 130 personel kepolisian dibantu 30 anggota TNI dan 30 Banser.

Happening art

Bramantyo menjelaskan, perkawinan antara Bagus Kodok dan Peri Roro Setyowati dikemas dalam bingkai seni, yakni 'seni kejadian', yang dikolaborasikan dengan tradisi Jawa.

"Ini seni kejadian atau juga dikenal sebagai happening art, kejadian yang dialami oleh Eko Kodok," ujarnya.

Seni kejadian atau juga dikenal sebagai happening art, menurut Bramantyo, memperluas kanvas atau panggung menjadi ruang dan waktu. Di ruang dan waktu tertentu, seniman menghadirkan suatu kejadian.

"Kali ini kejadian yang saya hadirkan adalah sebuah perkawinan adat Jawa, yang dihadirkan dalam suatu upacara," paparnya. 

"Tidak seperti perkawinan adat Jawa pada umumnya, prosesi ini memiliki dua keunikan; pertama, perkawinan ini diberi status dan label sebagai sebuah 'karya seni' bahwa yang hadir dianggap sebagai peserta pencipta karya. Kedua, Bagus Kodok Ibnu Sukodok dikawinkan dengan Peri Rara Setyowati, makhluk halus (bukan manusia)," lanjut Bram.

Bramantyo menjelaskan, selain para seniman, masyarakat, dan undangan lain, para danyang tanah Jawa akan hadir dalam prosesi pernikahan ini. Di dalam undangan dituliskan agar para tamu berpakaian layaknya orang yang datang ke pernikahan.

Advertiser