Senin, 03 November 2014

Penangkapan Raden Nuh @TM2000Back Bikin Heboh

Cahgalek.com - Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menangkap Raden Nuh salah satu yang diduga administrator akun Twitter TrioMacan2000 dan @TM2000Back.

Raden Nuh ditangkap di sebuah kost-kostan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, dini hari tadi. 2/11/2014) dini hari tadi. Raden Nuh sudah dibuntuti polisi sejak dari Kemang, Jaksel. “Dia sudah kami buntuti dari Kemang,” ujar seorang perwira di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya yang enggan disebutkan namanya, Minggu (02/11/2014).

Dari Kemang, Raden kemudian diikuti terus hingga akhirnya dia berhenti di sebuah kost-kostan di Jl Tebet Barat Dalam, Tebet, Jaksel, tak jauh dari kantor media online milik Edi Syahputra.

“Edi ini kakaknya Raden. Mereka ini adik-kakak,” ujar sumber lagi seperti yang dikutip DetikNews.

Setelah menunggu beberapa saat, polisi kemudian menangkap Raden di kamar kost tersebut. Saat itu, ada seorang perempuan bersama dia.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Pol Aris Budiman saat dikonfirmasi membenarkan adanya penangkapan Raden Nuh ini. "Benar, yang bersangkutan sudah kami amankan," ujar Aris saat dihubungi, Minggu (2/11/2014).

Raden Nuh ditangkap di sebuah kost-kostan di Jl Tebet Barat Dalam, Tebet, Jaksel, pukul 01.00 WIB, Minggu (2/11/2014).

Polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa empat unit handphone dan satu unit komputer tangan Jeni Galaxy Tab, serta dua CPU komputer di Tempat Kejadian Perkara.

Raden Nuh disebut sebagai otak di balik pemerasan yang dillakukan terhadap beberapa pejabat PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom). "Dia dalang dari semua kejahatan ini," kata Aris.

Modus yang dilakukan Nuh adalah dengan menghujat petinggi PT Telkom itu melalui media sosial (Twitter) dengan akun "@TM2000Back".

Sementara itu, Kuasa Hukum Raden Nuh, Junaidi mengatakan tuduhan pemerasan dan tindak pencucian uang yang disangkakan kepada kliennya cukup prematur. Pasalnya, belum ada cukup bukti dari penyidik untuk menguatkan tuduhan tersebut. "Kita melihat tuduhan itu cukup debatable ya. Cukup prematur juga karena kalau pemerasan itu harus ada buktinya dan seterusnya," kata Junaidi paska mendampingi kliennya di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya, Minggu (2/11).

Oleh karena itu, kata Junaidi, tim kuasa hukum Raden Nuh akan melihat lagi keterangan-keterangan kliennya berdasarkan fakta yang ada. Mereka juga akan melihat terlebih dahulu bukti-bukti apa yang dimiliki oleh penyidik. "Kalau menurut klien saya dia tidak ada melakukan hal tersebut (pemerasan dan pencucian uang)," ujar Junaidi.

Sebelumnya polisi menangkap Edi Syahputra juga di Tebet. Edi ditahan atas dugaan pemerasan pejabat PT Telkom lewat dunia maya. [Baca: Heboh Penangkapan Admin @Triomacan2000]

Penangkapan Raden Nuh Jadi Trending Topic

Kabar penangkapan admin akun Triomacan2000, Raden Nuh meramaikan lini masa Twitter di Minggu (2/11/2014) pagi.Bahkan kata kunci Raden Nuh sempat mengisi deretan trending topic di wilayah Jakarta.

Salah satu akun yang meramaikan kabar penangkapan Raden Nuh adalah akun @PartaiSocmed. Bahkan akun ini membeber sejumlah pihak yang bisa jadi saksi kunci demi menjerat Raden Nuh.

"Akhirnya Raden Nuh tertangkap juga. Sebentar lagi kami repost kultwit tentang hubungan RN dan TM2000. Dan terkait TM2000 sesungguhnya ada dua orang yg bisa dijadikan saksi kunci. Jika kedua orang ini dihadirkan maka RN pasti kena!" tulis @PartaiSocmed.

Bahkan @PartaiSocmed selama sekitar dua jam menulis kultwit mengenai pihak di balik akun Triomacan atau TM2000. "TM2000 memang punya tim utk urusan2 "tertentu", namun akunnya sendiri dikuasai oleh Raden Nuh," tulis @PartaiSocmed.

Sementara itu akun @kurawa berkicau menyindir Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang sebelumnya membesuk tersangka penghina Jokowi. "Kepada @fadlizon mohon besok bisa kunjungi raden nuh ditahanan, jangan cuma tukang tusuk sate dong bos tapi tukang tusuk b*l juga dibela," tulis @kurawa.

Akun @kurawa juga menulis,"Raden Nuh bukan admin yg sangat membenci jokowi, dia lebih ke fitnah pejabat2 utk diperas.. nah klo twit yg fitnah jokowi itu porsi AR & MHJ."

Akun @ernestprakasa milik Ernest Prakasa komedian yang tenar lewat acara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) membagikan berita dari media online tentang penangkapan admin Triomacan2000. Kemudian Ernest menulis, "Begitu Jokowi presiden, gembong TrioMacan langsung ditangkep polisi. Asoy bener dah ah."

Kicauan Ernest Prakasa pada pukul 8.42 WIB itu hingga pukul 11.05 WIB tercatat disambut 118 retweet dan 8 favorite serta sejumlah komentar netizen.

Adapun aktivis sosial Fadjroel Rachman lewat akun ‏@fadjroeL  menulis "kok belum ada save RN trio macan, om ustad @fadlizon @Fahrihamzah mana neh fans PKS dan Gerindra. Atau save #LHI18Tahun juga?"

Adapun Akhmad Sahal via akun ‏@sahaL_AS menulis "mau kasih selamat ke diri sendiri krn selama 1,5 thn twitteran tak pernah sekalipun mem-follow atau  erte TrioMacan."

Sebelum Ditangkap Raden Nuh sempat menyatakan klarifikasinya

Sebelum ditangkap petugas Subdit Cybercrime, Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, pada Minggu (2/11/2014) dini hari, Raden Nuh sempat menyatakan klarifikasinya.

Raden menyatakan klarifikasi di media miliknya, yakni Asatunews.com. Tulisan itu diakhiri dengan tempat dan tanggal Raden menulis, yakni Semarang, 1 November 2014.

Sedangkan berita mengenai klarifikasinya dimuat pada Sabtu (1/11/2014) pukul 09.50 WIB. Tidak sampai 24 jam setelah klarifikasi dimuat,  Raden dibekuk di Jalan Tebet Barat Dalam V, di depan kantor Asatunews.com dan kamar kos teman wanitanya. Klarifikasi antara lain memuat ia mengakui menerima uang sekitar Rp 325 juta untuk operasional perusahaan media online.

Berikut klarifikasi Raden dalam situs berita miliknya itu:

Sehubungan dengan informasi yang saya terima mengenai tuduhan kepada saya yang disebutkan telah melakukan tindak pidana pemerasan terhadap Abdul Satar atau dan Wahyu Sakti Trenggono dengan ini disampaikan klarifkasi sebagai berikut :

1. Saya tidak pernah dan tak akan pernah melakukan pemerasan terhadap Abdul Satar atau Wahyu Sakti Trenggono atau siapa pun juga, baik pada masa lalu, sekarang atau masa akan datang karena tindakan itu jauh dari sifat dan karakter saya. Jangankan berbuat pemerasan, memikirkannya saja saya tak pernah.

2. Apalagi jika disebutkan saya memeras Abdul Satar atau biasa saya panggil Abangda Satar atau WS Trenggono, bahkan UNTUK MEMINTA UANG kepada Satar atau Trenggono, saya tidak pernah, meski Satar dan Trenggono kerap menawarkan bantuan uang atau lainnya kepada saya. Karena secara ekonomi, saya cukup mampu dan ketika ditawarkan bantuan uang dengan berbagai alasan, saya selalu menolak.

3. Benar bahwa saya ada menerima sejumlah uang, kalau tidak salah sebesar Rp. 50 juta dan Rp. 275 juta pada pertengahan oktober 2014 lalu, terhadap pemberian uang tersebut saya sampaikan sebagai berikut :

Uang tersebut adalah untuk penggantian biaya operasional perusahaan/ kantor PT Asatu Media Perdana Bangsa yang merupakan milik Abdul Satar dan Wahyu Sakti Trenggono, saya dan Hari Koeshardjono. Di mana kepemilikan saham PT Asatu Media Perdana Bangsa sebesar 51% adalah milik Abdul Satar dan Trenggono, 35% milik saya dan Abadullah Rasyid, serta 14% milik Hari Koeshardjono. Namun, dalam akte perusahaan, saham milik Satar dan Trenggono dititipkan atas nama Hari Koes Hardjono.

Penyerahan uang sebanyak dua kali dilakukan di restoran Larazeta Jalan Tebet Barat Raya 17 Tebet, Jakarta selatan.Penyerahan kedua pada tanggal 16 Oktober 2014 sekitar pukul 13.30 WIB di restoran Larazeta Jalan Tebet Barat Raya No. 17 lantai 2. Di mana pertemuan itu adalah inisiatif dari Satar setelah pertemuan pertama beberapa hari sebelumnya yang mana juga merupakan inisiatif dari Satar melalui ajakan pertemuan kepada saya melalui pesan bbm (blackberry messenger).

Pada pertemuan pertama, Abdul Satar mengundang bertemu dan mengajak makan siang saya tanpa menyebutkan alasan dan maksud pertemuan. Setelah makan siang, barulah Abdul Satar menanyakan mengenai kondisi perusahaan PT Asatu Media Perdana Bangsa yang mengelola media online Asatunews.com. Saya jelaskan bahwa sejak Abdul Satar dan Trenggono tidak lagi atau menghentikan transfer biaya operasional kepada Asatunews sejak sekitar bulan Juni 2014 lalu, Asatunews memliki hutang di mana-mana, termasuk pada karyawan sendiri.

Asatunews didirikan atas inisiatif Wahyu Sakti Trenggono pasca pertemuan dengan saya, Hari Koeshadjono, Abdullah Rasyid dan Wahyu Sakti Trenggono pada hari Senin, tanggal 17 Juni 2013, sekitar pukul 18.30 hingga pukul 21.30 di Opal Cafe, Tebet Green Jalan MT Haryono Jakarta Selatan.

Sebelumnya, Abdullah Rasyid yang pada saat itu adalah Staf Khusus Menko Hatta Rajasa pada hari Senin siang sekitar pukul 15.00 Wib bertemu dengan saya di Aceh Corner Bidakara, Jl.MT Haryono Jakarta Selatan. Menurut Abdul Rasyid, ia ketika itu ditugaskan Menko Hatta Rajasa untuk menemui saya. Pada saat pertemuan itu juga hadir M Fahrudin (mantan sekjen KNPI) yang juga Sekretaris Polkam DPP Partai Demokrat.

Pada saat pertemuan itu, Abdullah Rasyid menerima telepon dari seseorang yang kemudian baru diketahui orang itu adalah Wahyu Sakti Trenggono, Wakil Bendahara Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga pengusaha nasional tangan kanan Menko Hatta Rajasa.  Di sela-sela pembicaraan telpon Rasyid dengan Wahyu Sakti Trenggono, tiba-tiba Abdullah Rasyid mengatakan Trenggono ingn bertemu saya, yang saya tolak karena saya tidak mengenalnya sama sekali.

Menanggapi penolakan saya, Rasyid memberikan handphone-nya dan meminta saya sampaikan penolakan langsung kepada Wahyu Sakti Trenggono yang terus mendesaknya untuk bisa bicara langsung kepada saya.

Melalui pembicaraan via handphone Rasyid itu, Trenggono mendesak saya agar bersedia bertemu dengannya hari itu juga. Akhirnya pertemuan pertama saya dengan Wahyu Sakti Trenggono (mitra Abdul Satar) terjadi juga di Opal Cafe, Pukul 18.30 sampai 21.30 Wib Senin 17 Juni 2013.

Pada saat pertemuan itu, Wahyu Sakti Trenggono meminta kami (Rasyid, Hari dan Saya) untuk membantu "mengamankan" PT Telkom, yang saat itu sedang disorot publik karena banyak dugaan korupsi, di antaranya korupsi proyek MPLIK di PT Telkom dan penjualan PT. Telkom Vision kepada Chairul Tandjung/ Trans Corp Grup, yang dinilai rakyat dilakukan  Telkom secara melanggar hukum dan merugikan negara USD 150 juta atau Rp. 1.8 Triliun.

Pada saat itu, Trenggono menawarkan sejumlah uang agar kami mau membantu mengamankan berbagai dugaan korupsi di Telkom yang telah merugikan negara sangat besar. "Abang, mau apa? Sebut saja. Saya punya uang lebih Rp 4 triliun, cash! Saya juga punya credit line lebih USD 4 miliar. Abang mau apa saja, saya bisa berikan," kata Trenggono kepada saya malam itu untuk membujuk saya membantu mengamankan korupsi-korupsi di PT Telkom Indonesia Tbk.

Menanggapi penawaran Trengono itu, saya menjawab "Saya punya uang Rp 4 juta di ATM BCA. Saya tidak punya credit line miliaran dollar Amerika seperti Mas Trenggono, tapi maaf, saya tidak butuh apa-apa". Mendengar jawaban saya, Trenggono langsung berdiri sambil memekikan "Allahu Akbar!" sambil memeluk saya, Mas Trenggono mengatakan "Inilah Saudara saya yang saya cari-cari selama ini".

Itulah sekelumit fakta awal pertemuan saya dengan Trenggono dan tak lama kemudian dengan Abdul Satar, yang merupakan mitra Trenggono. Dari pertemuan di Opal Cafe, Tebet Green, Jakarta Selatan, terjadilah hubungan 'persaudaraan' antara saya dengan Mas Trenggono dan Abdul Satar, hingga hari ini.

Pertemuan berikutnya intens terjadi, di mana dari puluhan kali pertemuan kami terutama di kantor Mas Trenggono dan Satar MT Building Jl.MT Haryono, Trenggono dan Satar mengajak kami untuk mendirikan media online ASATUNEWS yang pada awalnya direncanakan Trenggono dan Satar harus dapat mengalahkan kompetitor seperti Detik.news, Vivanews dan lain-lain. Saya, Hari dan Abdullah Rasyid diminta untuk membantu terwujudnya rencana itu.

Satar dan Trenggono berulang kali mengatakan bahwa mereka ingin membesarkan Asatunews yang baru berdiri itu. Berapapun biayanya akan mereka siapkan. Dalam dua tahun Asatunews harus mampu mengalahkan detik.news dan dalam 5 tahun akan mengalahkan Vivanews.

Dalam berbagai meeting mengenai perusahaan PT Asatu Media Perdana Bangsa, Trenggono dan Satar selalu mengulangi ambisi mereka tersebut. "Asatunews harus bisa menjadi holding company di mana berbagai perusahaan media dan media content berada di dalamnya". Kalimat ini selalu diulang-ulang oleh Trenggono dan Satar. Termasuk rencana pendirian media televisi nasional yang nantinya berada di dalan Holding Company Asatunews.

Konsekuensinya, kami diminta untuk mencari staf redaksi terbaik di Indonesia. Kami diminta untuk membentuk organisasi perusahaan yang lengkap secepatnya. Untuk kantor asatunews, Trenggono dan Satar menyewakan sebuah rumah berlantai dua di Jalan Tebet Barat Dalam V Nomor 26 Tebet Jakarta Selatan. (Tempat Kejadian Perkara/ TKP rekayasa kasus "pemerasan' oleh Edi Syahputra terhadap PT Telkom disebutkan terjadi. Sebuah kasus yang saya tahu persis adalah rekayasa dari pihak Telkom sendiri, dengan memberikan laporan palsu atau keterangan tak benar kepada Polda Metro Jaya.

Atas permintaan Trenggono dan Satar yang berulang-ulang ditekannya, organisasi Asatunews yang baru berdiri menjadi gemuk. Susunan organisasi redaksi dan perushaan hampir sempurna. Namun, konskuensinya, biaya operasional menjadi besar sedangkan pendapatan terutama iklan belum ada. Trenggono dan Satar selalu menekankan biaya tidak menjadi masalah. Berapapun akan disiapkan, yang penting rencana menjadikan Asatunews terbesar dapat terwujud.

Namun, kenyataannya pada bulan ketiga dan seterusnya, Trenggono dan Satar selalu mentransfer atau memberikan biaya operasional kurang dari seharusnya, juga sering terlambat yang mengakibatkan karyawan tidak nyaman bekerja dan satu per satu keluar dari Asatunews karena gaji sering terlambat. Meski begitu, kami dipaksa untuk merekrut staf baru lagi.

Kondisi ini berlangsug terus-menerus hingga utang perusahaan kepada banyak pihak menumpuk termasuk kepada karyawan sendiri seperti Santika yang mencapai Rp 50 juta dan kepada karyawan lain (utang gaji dll ratusan juta rupiah). Puncaknya pada Mei-Juni 2014 di mana para karyawan asatunews tidak lagi gajian dan untuk mengatasinya, terpaksa harus meminjam uang kemana-mana. Trenggono dan Satar tidak lagi mentransfer uang operasional. Pada Juli - Agustus - September 2014 perusahaan terpaksa gadaikan mobil operasional. Hingga akhirnya sebagian karyawan di rumahkan dan tidak mendapat gaji dan THR. sebagian malah diberhentikan.

Pada awal Oktober 2014 tiba, Satar kirim sms mengajak bertemu dan menyerahkan sebagian uang untuk yang menjadi komitmen Trenggono dan Satar sejak pertama kali berniat mendirikan asatunews. Penyerahan uang dua kali yang dilakukan Satar melalui saya untuk Asatunews masing-masing Rp 50 juta dan Rp 275 juta.

Saya tahu skenario rekayasa kasus pidana atau kriminalisasi terhadap saya. Ada informasi, nasib saya juga akan dijadikan seperti Edi Syahputra, Ibnu Misbakhul Hayat, Hari Koeshardjono atau bahkan seperti Anas Urbaningrum dan Antasari Azhar, di mana opini palsu diciptakan secara masif dan terus menerus tanpa ada perimbangan berita yang sebenarnya.

Seiring dengan itu, kesalahan saya selaku manusia biasa akan dikorek-korek, dicari-dicari sampai ketemu dan jika tak ketemu maka akan diciptakan kejahatan fiktif di mana saya harus dihukum penjara atau dimatikan di penjara atas perintah orang-orang tertentu. Alangkah malangnya nasib Bangsa dan Negara Indonesia yang tercinta, di mana konstitusi dan mukaddimah UUD 1945 tegas menyatakan Indonesia adalah negara berdasarkan hukum, bukan kekuasaan.

Demikian disampaikan.

Semarang, 01 Nopember 2014

Semoga Allah SWT senantiasa bersama kita. Amiin YRA

Raden Nuh

Advertiser