Sabtu, 28 Februari 2015

Kasihan, Gadis ABG 14 Tahun Diperkosa Ayahnya dan Rela Ditiduri 30 Tukang Becak Demi Makan

Cahgalek.com - Seorang ayah harusnya melindungi dan menyayangi anaknya. Tapi nasib malang menimpa ABG berusia 14 tahun warga Baturaja, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Dia malah dijadikan budak seks oleh paman dan ayahnya sendiri.

Di usianya yang masih belia ini, Bunga harus menjalani kehidupan yang benar-benar pahit. Kegadisannya direnggut oleh sang paman. Bunga dijadikan budak seks oleh pamannya sendiri hingga beberapa waktu lamanya.

Karena tak tahan menjadi budak seks paman sendiri, Bunga lantas nekat mencuri uang nenek Rp 150 ribu untuk pergi ke Palembang menemui ayahnya berinisial U.

Bukannya mendapat perlindungan, dia malah diperkosa ayahnya berinisial U. Selama seminggu tinggal di rumah ayahnya, dia harus melayani nafsu ayah kandungnya dengan paksa. "Seminggu saya di rumah ayah, saya diperkosa terus. Tidak di Baturaja, tidak di Palembang, saya diperkosa, bahkan oleh ayah kandung," ungkapnya di Mapolresta Palembang, Jumat (27/2).

Tak tahan dengan perlakuan kasar ayahnya, dia kabur dan bermaksud menemui teman sekampungnya yang tinggal di Indralaya, Ogan Ilir. Namun di mulai dari daerah itu, dia menjadi pelacur setelah dijual oknum anggota TNI. "Nasib saya memang tidak beruntung. Tapi, saya tetap bertahan hidup," tukasnya.

Selama menjadi pelacur, bocah malang ini harus melayani sedikitnya lima pria hidung belang setiap hari. Bunga akhirnya berhasil kabur dari tempat pelacuran di Indralaya, Ogan Ilir, dan langsung melapor ke SPKT Polresta Palembang, Jumat (27/2).

Kepada petugas, korban mengaku harus menjadi pelacur sejak dijual ke seorang germo oleh anggota TNI yang baru dikenalnya pada 11 Februari 2015 lalu. Dalam keadaan terpaksa, dia harus meladeni pria hidung belang yang membookingnya. "Paling sedikit ada lima orang yang saya layani. Itu setiap hari, tak pernah libur," ungkap Bunga, Jumat (27/2).

Satu kali transaksi Bunga memasang tarif minimal Rp 120 ribu. Dari uang itu, tidak sepenuhnya dapat dikantonginya karena harus membayar uang sewa kamar sebesar Rp 20 ribu per transaksi. "Uang itu saya simpan dan untuk biaya makan. Germonya ngambil Rp 20 ribu buat sewa kamar," kata dia.

Setelah berhasil melarikan diri dari tempat pelacuran di Indralaya, Ogan Ilir, harapan Bunga untuk hidup normal terbuka lebar. Sayang, dia terpaksa kembali menjual diri lantaran uang pegangannya sudah habis.

Bunga mengaku tiba di Palembang, Selasa (24/2) malam. Lantaran tak ada tempat tujuan, dirinya terpaksa bermalam di Jembatan Ampera. Di sana, dia ditawari para tukang becak untuk berhubungan badan. Sempat terbersit menolaknya. Namun, keinginannya itu bertolak belakang dengan kondisinya saat itu. Dia terpaksa kembali menjual diri. "Bagaimana lagi pak, duit sudah habis. Lagi pula, ke mana lagi harus pergi," ungkap Bunga di Mapolresta Palembang, Jumat (27/2).

Seingatnya, selama tiga hari berada di Palembang, dia sudah melayani lebih dari 30 tukang becak. Dia sengaja tidak mematok harga tinggi karena harapannya bisa makan. "Ada 15 ribu, ada 50 ribu. Tak tentu. Yang penting bisa makan. Mainnya kadang di hotel, kadang di bawah Ampera," kata dia.

Saat malam ketiga di Palembang, Kamis (26/2), Bunga didatangi gerombolan anak punk. Mereka bermaksud mengajak korban berhubungan badan. Karena takut dan tak pernah bersetubuh lebih dari satu pria, Bunga takut dan mencoba melarikan diri. Sial, pelaku yang berjumlah banyak berhasil menangkapnya dan membawanya ke tempat sepi di bawah jembatan itu. Di sanalah, dia menjadi korban perkosaan bergilir. "Tidak tahu berapa orang, saya tidak ingat. Tapi, setahu saya, mereka anak-anak punk yang ngakunya senang ngisap aibon," kata dia.

Advertiser