Minggu, 15 Maret 2015

Heboh Nikah Siri Online, Tarifnya 2 Juta

Cahgalek.com - Dengan dalih menghindari zina, jasa menikah siri mulai marak diiklankan di dunia maya. Para penikmat libido pun berlomba menggunakan situs tersebut.

Beberapa bulan terakhir, nikah siri online menjadi perbincangan masyarakat Bogor. Pasalnya, ada beberapa pengiklan jasa nikah instan yang terang-terangan menyebutkan bisa menyiapkan semuanya, termasuk para saksi dan wali. Mereka mengklaim prosesnya sangat mudah dan sesuai dengan kaidah agama.

Dilansir pojoksatu.id, ada empat jasa nikah asal Bogor yang berbeda di internet. Misalnya dari situs  https://jasanikahsirih.wordpress.com. Dalam situs ini, pengiklan mengaku bernama Ustad KH Ahmad Zaelani berasal dari Desa Cibeureum, RT 08/01, No 88, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Dalam iklannya, selain nikah siri, dia juga bisa mengurus nikah dengan warga negara asing dan melayani pelanggan dari seluruh Indonesia. Sayangnya, saat dihubungi, pemilik nomor kontak 08131598xxxx tersebut sudah tidak aktif lagi.

Pengiklan lain yang getol beriklan adalah seorang yang mengatasnamakan Bu Devi. Dalam iklannya, Bu Devi melayani pernikahan siri untuk wilayah Bogor, Depok, Tangerang dan sekitarnya.

Kalimat-kalimat yang digunakan Devi dalam menawarkan jasanya sungguh memikat mereka yang membaca. Devi menuliskan bahwa proses nikah siri sangat mudah. Calon mempelai tidak perlu menyediakan dokumen apapun, termasuk pasfoto maupun KTP.

Devi mengisyaratkan bahwa calon mempelai tinggal membuat janji hari dan tanggal pernikahan. Lebih menggiurkannya, tarif jasa yang dipatok Devi hanya Rp2 juta. ”Dapat sertifikat siri pula,” begitu iming-imingnya.

Untuk memverikasinya, mencoba mengontak Bu Devi, dengan nomor yang tercantum dalam iklannya yakni 08222054xxxx. ”Saya sedang di Bandung. Kalau posisi pernikahan di Bogor dikenakan biaya transportasi pulang pergi Bandung-Bogor,” ujar wanita asal Depok tersebut.

Proses nikah siri bisa dimana saja, tergantung keinginan calon mempelai. “Menikah bisa di masjid, rumah, apartemen, dan lain-lain. Saya jamin kerahasiaannya. Syarat wali dan saksi sudah cukup menjadi syarat sah nikah sesuai syariat agama. Nanti dapat sertifikat nikah,” ujarnya.

Devi mengatakan, tidak ada syarat khusus untuk nikah siri. Bahkan, dia tidak perlu mengetahui status calon mempelai yang akan dinikahkan.

“Kalau boleh, ya, tunjukkan KTP. Tidak pun, tak apa-apa,” ungkapnya.

Wali nikah juga bukan syarat utama bagi Devi. Setelah menjelaskan perihal syarat, pembicaraan Devi mulai beranjak ke tarif. Dia menyebut tarif yang dipatok hanya biaya pengganti. Meski hanya biaya pengganti, Aulia mengajukan tarif Rp2 juta.

Menurut dia, uang itu digunakan untuk wali nikah dan para saksi. Tarif itu pun fix dan tidak bisa ditawar lagi. “Kalau bisa, ditransfer dulu beberapa hari sebelum hari H. Sebab, perlu saya siapkan dulu untuk wali nikah dan para saksinya,” ujarnya.

Dari biaya itu, Devi mengaku juga memberikan sertifikat sebagai bukti bahwa si perempuan dan laki-laki telah menikah siri. Namun, belum juga sepakat tentang harga. Devi malah mengakhiri pembicaraan.

“Sisanya lewat SMS saja, kalau sepakat kita janjian setelah saya balik dari Bandung,” bebernya.

Selain Devi, ada juga seorang pengiklan jasa nikah siri yang bernama Ari Suparli. Pria itu mengaku berdomisili di Bandung. Dalam komunikasi via telepon, Ari memang mengaku melayani jasa menikahkan siri.

Ari juga sanggup melayani order untuk datang ke Bogor maupun kota di luar Bandung lainnya. Untuk tarif jasa menikahkan seseorang di Bogor, tarif yang diajukan Ari lebih mahal daripada yang diminta Devi.

Ari mematok tarif Rp2,5 juta. “Itu sudah termasuk biaya wali hakim dan saksi-saksi,” ungkapnya.

Ari mengaku siap menikahkan di mana pun sesuai keinginan calon mempelai. “Di masjid boleh, di apartemen atau hotel juga bisa,” terang pemilik nomor 08222054xxxx itu.

Menanggapi maraknya nikah siri online, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, masyarakat yang memilih menikah dengan jalur tidak resmi, seperti nikah siri online, memiliki konsekuensi untuk menanggung berbagai risiko pernikahannya sendiri. "Pernikahan siri itu negara tidak tahu-menahu karena negara tidak mencatat pernikahan tersebut. Jadi kalau terjadi apa-apa, konsekuensi dari pelaksanaan hak-hak dan pelaksanaan kewajiban itu kemudian tidak bisa diketahui, padahal ini peristiwa sakral," kata Lukman di Jakarta, Jumat (13/3/2015).

Menurut Menag, pernikahan merupakan peristiwa sakral dengan suami istri memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Maka, pernikahan yang baik adalah yang resmi dicatat negara. Dengan demikian, bila terjadi apa-apa dalam peristiwa pernikahan itu, negara bisa ikut melindungi.

Lukman meminta masyarakat agar sebisa mungkin menyelenggarakan pernikahan secara resmi yang dicatat oleh negara demi perlindungan mereka sendiri. Menurut Lukman, negara tidak dapat bertindak jika sewaktu-waktu terjadi masalah pada pernikahan yang tidak tercatat oleh negara. Salah satu permasalahan itu seperti sengketa hak waris.

Lebih lanjut, Lukman mengatakan, negara tidak dapat memberikan penindakan ataupun sanksi kepada masyarakat yang melakukan pernikahan siri. Alasannya, pernikahan yang hanya resmi secara agama itu bukanlah bentuk pelanggaran pidana. "Nikah seperti itu sah secara agama. Hanya saja, nikah siri itu tidak dicatat oleh negara. Jadi bukan berarti nikah siri itu bukan sesuatu yang haram, itu juga bukan seperti itu, jangan salah mengutip. Tapi peristiwa nikah siri itu tidak dicatat oleh negara," kata dia.

Advertiser