Kamis, 17 September 2015

Bahaya Robot Seks yang Ditakuti Ilmuwan

Cahgalek.com - Beberapa perusahaan saat ini sedang mengembangkan robot yang dapat digunakan sebagai pengganti manusia untuk kegiatan seksual. Namun, ilmuwan menganggap hal itu berbahaya dan sudah melancarkan kampanye melawan penjualan robot seks karena bisa merugikan wanita.

Perusahaan-perusahaan robot dan elektronik buru-buru menyelesaikan robot mereka untuk dilempar ke pasar. Salah satunya, perusahaan dari California RealDoll berencana menjual boneka seks dari karet dengan kecerdasan buatan dan mampu bicara pada 2017.

Ada pula True Companion yang sudah mendisain robot seks pertama di dunia yang diberi nama Roxxxy.

Robot Roxxxy bisa mengetahui kesukaan dan ketidaksukaan pemiliknya, bisa diajak berdiskusi dan mengungkapkan rasa cintanya kepada pemiliknya, mendengarkan dan merasakan sentuhan.

True Companion juga menyebutkan Roxxxy dapat merasakan orgasme. Ketika ditanya apakah Roxxxy dapat memberikan dampak merugikan masyarakat, pendiri dan penemu Roxxxy, Douglas Hines mempertahankan ciptaannya dan mengatakan robot itu bermanfaat untuk bermain peran dalam masyarakat. "Roxxxy memberikan kesenangan fisik dan seksual selain juga menyediakan interaksi sosial dan kedekatan," katanya.

"Robot ini merupakan teknologi dengan penyesuaian yang memberikan pasangan sempurna. Robot itu bukan dimaksudkan untuk menggantikan pasangan manusia sungguhan melainkan sebagai pelengkap," imbuhnya.

Ia mengatakan robot seks adalah tambahan yang berguna untuk masyarakat dan dapat digunakan untuk tujuan terapi. Ia berpendapat robot seperti Roxxxy dapat membantu menurunkan perdagangan seks serta kekerasan seks dan rumah tangga. "Sepanjang kita tak melukai siapa pun, tak akan ada masalah," katanya.

Harga robot itu mulai dari $6.995 (sekitar Rp97 juta). Harga dapat mencapai $75.000 (sekitar Rp 1 milyar) jika dibuat sesuai kebutuhan. Robot seks pria pun disebutkan sedang dibuat.

Namun, para ilmuwan menganggap hal itu berbahaya dan sudah melancarkan kampanye melawan penjualan robot seks karena bisa merugikan wanita.

Pemimpin kampanye, Kathleen Richardson, ahli antropologi robot dan etika dari De Montfort University Leicester, Inggris  memperingatkan robot seks mungkin berbentuk anak-anak dan wanita dewasa.

"Ketika pertama melihat benda itu, saya pikir, oh, robot seks tak berbahaya dan mungkin mengurangi perdagangan wanita dan anak-anak. Tetapi ketika meneliti benda tersebut, semakin banyak ditemukan kebalikannya. Bukannya mengurangi obyektifikasi perempuan, anak-anak, pria dan kaum transgender, robot-robot ini justru menyebabkan dan meneguhkan obyektifikasi mereka dalam masyarakat," tegasnya.

"Kita saat ini sudah menggunakan wanita dan anak-anak di dunia nyata sebagai obyek seks dan perlengkapan ini semakin meneguhkan pesan itu," imbuhnya.

Erik Billing, dosen senior School of Informatics di Swedia turut bergabung dengan kampanye melawan robot seks. Ia khawatir mengenai dampak yang belum diketahui dari robot tersebut terhadap relasi antar manusia. "Saat ini kita punya banyak jenis alat bantu seks dan penggunaan robot sangat membantu dan kita mulai melihat ancang-ancang penjualan robot seks. Ada banyak kecemasan terhadap penjualan teknologi ini dalam skala besar tanpa meneliti dampaknya terhadap hubungan antar manusia," kata Billing.

Ia mengatakan robot seks merupakan bagian dari tren global menuju isolasi lebih luas, di mana manusia kini belanja dari rumah atau hidup sendiri. Sementara banyak penelitian membuktikan manusia amatlah membutuhkan sentuhan dari manusia lain. "Memperkenalkan robot seks yang dapat menggantikan pasangan adalah tren yang sangat ekstrim. Kita mulai mengobyektifikasi hubungan antar manusia," katanya.

Penjualan robot seks dalam skala besar-besaran tak bisa dihindari bakal terjadi dalam waktu dekat. "Sebentar lagi aplikasi ini dijual di toko. Dalam lima sampai 10 tahun robot ini akan menjadi produk biasa yang dijual di semua toko penjual alat bantu seks," tuturnya.

Advertiser