Selasa, 29 September 2015

Tolak Tambang, Petani Disetrum, Digorok dan Dicangkul Hingga Mati

Cahgalek.com - Menolak penambangan pasir liar di Desa Selok Awar-Awar, Pasiran, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dua warga, Salim (46) atau akrab dipanggil 'Salim Kancil' dan Tosan dikeroyok 40 orang pro penambangan. Salim tewas secara sadis dan Tosan mengalami luka-luka berat.

Fakta sadisnya penyiksaan para preman tambang terhadap Salim dan Tosan diungkap Tim Advokasi Tolak Tambang Pasir Lumajang. Dalam rilis tertulis tim advokasi yang terdiri dari Laskar Hijau, Walhi Jawa Timur, Kontras Surbaya, dan LBH Disabilitas disebutkan, sebelum tewas dipukul dengan batu dan balok kayu, Salim, sempat disetrum dan digergaji.

Tim advokasi menyampaikan, saat 40-an preman datang menyerbu rumahnya, Sabtu (26/9), Salim sedang menggendong cucunya yang berusia 5 tahun. "Mengetahui ada yang datang berbondong dan menunjukkan gelagat tidak baik Salim membawa cucunya masuk. Gerombolan tersebut langsung menangkap Salim dan mengikat dia dengan tali yang sudah disiapkan," tulis tim advokasi seperti dikutip dari republika.co.id, Senin (28/9).

Tim advokasi melanjutkan, para preman kemudian menyeret Salim dan membawa dia menuju Balai Desa Selok Awar-Awar yang berjarak 2 kilometer dari rumahnya.

Sepanjang perjalanan menuju Balai Desa, gerombolan ini terus menghajar Salim dengan senjata-senjata yang mereka bawa, disaksikan warga yang ketakutan dengan aksi ini. "Di Balai Desa, tanpa mengindahkan bahwa masih ada banyak anak-anak yang sedang mengikuti pelajaran di PAUD, gerombolan ini menyeret Salim masuk dan terus menghajarnya," tulis tim advokasi.

Tim advokasi melanjutkan, di Balai desa, gerombolan ini sudah menyiapkan alat setrum yang kemudian dipakai untuk menyetrum Salim berkali-kali. Tak berhenti sampai di situ, mereka juga membawa gergaji dan dipakai untuk menggorok leher Salim. Namun, upaya mereka seolah tidak melemahkan Salim.

Melihat kenyataan Salim masih sehat, tulis tim advokasi dalam rilisnya, dalam keadaan balai desa yang masih ramai, gerombolan tersebut kemudian membawa Salim yang masih dalam keadaan terikat melewati jalan kampung menuju arah makam yang lebih sepi. "Di tempat ini mereka kemudian mencoba lagi menyerang salim dengan berbagai senjata yang mereka bawa. Baru setelah gerombolan ini memakai batu untuk memukul, Salim ambruk ke tanah," tulis tim advokasi.

Mendapati itu, menurut keterangan tim advokasi, mereka kemudian memukulkan batu berkali-kali ke kepala Salim. Di tempat inilah kemudian Salim meninggal dengan posisi tertelungkup dengan kayu dan batu berserakan di sekitarnya.

Sebelum membantai Salim, para preman juga menyerang rumah Tosan, warga penolak tambang lainnya. Menurut keterangan tim advokasi, Tosan didatangi segerombolan orang menggunakan kendaraan bermotor sekitar pukul 07.30.
 
"Mereka membawa pentungan kayu, pacul, celurit, dan batu. Tanpa banyak bicara mereka lalu menghajar Tosan di rumahnya, Tosan berusaha menyelamatkan diri dengan menggunakan sepeda namun segera bisa dikejar oleh gerombolan ini," tulis tim advokasi.

Tim advokasi menyampaikan, Tosan lalu ditabrak dengan motor di lapangan tak jauh dari rumahnya. Tak berhenti di situ, gerombolan ini kembali mengeroyok Tosan dengan berbagai senjata yang mereka bawa sebelumnya. "Tosan bahkan ditelentangkan di tengah lapangan dan dilindas motor berkali-kali. Gerombolan ini menghentikan aksinya dan pergi meninggalkan Tosan setelah satu orang warga bernama Ridwan datang dan melerai," tulis tim advokasi.

Salah satu anggota tim advokasi A'ak Abdullah melaporkan, saat ini, kampung tempat kejadian masih mencekam. "Warga dan keluarga korban masih dalam suasan duka dan rawan terpancing untuk membalas dendam," ujar Aak, Senin (28/9).

Tim Advokasi Tolak Tambang Pasir Lumajang mengatakan seharusnya pihak kepolisian bisa sigap mengantisipasi kasus penyiksaan dan pembunuhan terhadap Salim (46), warga penolak tambang pasir, pada Sabtu (26/9).

Tim advokasi menyampaikan, sebelum peristiwa penyerangan yang menewaskan Salim, Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, sudah mengadukan ancaman yang dialamatkan kepada warga penolak tambang kepada pihak kepolisian.

"Pada 11 September 2015, forum sudah melaporkan secara resmi ancaman terhadap Tosan ke Polsek Pasirian, Namun laporan ini tidak mendapatkan tanggapan yang cukup. Karena nama-nama mereka yang memberikan ancaman sama sekali tidak diproses oleh pihak kepolisian," ujarnya dalam pernyataan pers yang diterima Republika.co.id.

Menurut tim advokasi, orang-orang yang dilaporkan tersebut, kemudian terbukti melakukan penyerangan terhadap Tosan dan Salim. Menurut tim advokasi, jika pihak kepolisian memiliki kesungguhan untuk melindungi keselamatan warga, seharusnya peristiwa tragis tersebut bisa dihindari.

Tim Advokasi menjelaskan, penolakan warga terhadap aktivitas pertambangan, sesungguhnya juga sudah berlangsung lama. Bukan hanya di Selok Awar-Awar, penolakan aktivitas pertambangan di pesisir selatan Lumajang telah menimbulkan keresahan dan penolakan di berbagai tempat.

"Panjangnya daftar konflik akibat aktivitas pertambangan pasir besi di kawasan pesisir selatan Lumajang ini rupanya tidak menjadi pelajaran bagi Pemerintah Kabupaten Lumajang beserta aparat keamanannya," katanya.

"Meskipun telah banyak diketahui bahwa tambang-tambang tersebut banyak yang beroperasi secara ilegal dan merusak lahan pertanian pesisir pantai, namun sama sekali tidak ada tindakan tegas yang dilakukan oleh pemerintah dan aparat penegak hukum," tulis tim advokasi dalam siaran persnya.

Kepala Kepolisian Resor Lumajang Ajun Komisaris Besar Fadly Munzir Ismail mengatakan telah menetapkan 18 tersangka terkait dengan kasus penganiayaan dan pembunuhan Salim Kancil dan Tosan. "Sampai saat ini, kami sudah mengamankan dan menetapkan 18 tersangka dalam kasus tersebut," kata Fadly.

Fadly menuturkan jumlah tersangka kemungkinan bisa bertambah sesuai dengan hasil penyidikan dan penyelidikan anggotanya yang ada di lapangan. Ke-18 tersangka mempunyai peran yang berbeda.

"Masing-masing mempunyai peran yang berbeda-beda, mulai mengajak, memerintahkan, memukul, melempar, hingga menyetrum korban," ucap Fadly.

Menurut Fadly, pihaknya telah menangkap otak dan penggerak kejadian tersebut. "Di antara 18 orang yang kami amankan, ada otak dan penggeraknya," katanya.

Fadly tidak menyebutkan siapa otak dan penggerak penganiayaan dan pembunuhan itu. "Kami lihat nanti lebih lanjut, siapakah aktor intelektualnya. Apa yang di ada di antaranya 18 orang tersebut atau berkembang ke yang lain," katanya.

Fadly berujar, pihaknya berkonsentrasi menangani kasus tersebut. Dia meminta agar masyarakat mempercayakan kasus ini kepada polisi. "Kami akan bekerja semaksimal mungkin untuk terus mengungkap sampai tuntas," ucapnya.

Terkait dengan kasus penganiayaan dan pembunuhan ini, polisi mengamankan 36 orang di Polres Lumajang. Sebanyak 18 dari 36 orang tersebut kemudian dijadikan tersangka.

Advertiser